
Evakuasi di Stasiun Bekasi Terus Berlanjut, 3 Korban Masih Terjepit di Gerbong KRL
Bekasi – Kepala Basarnas Mohammad Syafii melarang tim SAR menggeser gerbong kereta dalam proses evakuasi korban tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026). Langkah itu diambil untuk menghindari risiko cedera yang lebih fatal bagi korban yang masih terjepit.
Kronologi Kejadian
Insiden bermula pada Senin (27/4/2026) malam pukul 20.55 WIB. KA Argo Bromo Anggrek dengan nomor perjalanan 4 rute Gambir-Surabaya Pasar Turi menabrak rangkaian KRL di Stasiun Bekasi Timur. Tabrakan disebut bermula dari insiden KRL yang menabrak sebuah taksi, sebelum akhirnya dihantam KA jarak jauh tersebut dari belakang.
Gerbong nomor 8 yang merupakan gerbong khusus wanita mengalami kerusakan paling parah. Sejumlah penumpang langsung terjebak di dalam gerbong yang ringsek akibat benturan keras dengan lokomotif.
Basarnas Special Group segera diterjunkan ke lokasi bersama tim SAR gabungan, TNI, Polri, dan tim medis untuk melakukan evakuasi.
Kendala Evakuasi
Syafii mengungkapkan, kendala utama yang dihadapi tim adalah menyatunya gerbong KRL dengan lokomotif, sehingga ruang gerak untuk evakuasi sangat terbatas.
“Yang menjadi permasalahan adalah space untuk kita melakukan tindakan. Kita melakukan tindakan dari luar ternyata juga mengalami kesulitan tersendiri,” ujarnya kepada wartawan di lokasi kejadian.
Di dalam gerbong pun kondisinya tidak lebih mudah. Kapasitas ruang hanya memungkinkan maksimal 25 orang masuk, itupun bercampur dengan material reruntuhan dari lokomotif dan gerbong yang menyatu.
3 Korban Masih Terjepit
Per pukul 05.11 WIB, masih terdapat tiga dari tujuh korban yang belum berhasil dievakuasi. Seluruhnya merupakan perempuan dari gerbong khusus wanita nomor 8.
“Masih ada beberapa korban yang masih dinyatakan hidup, namun kondisinya masih dalam kondisi terjepit,” kata Syafii.
Tim SAR menerapkan teknik cutting (pemotongan) dan lifting (pengangkatan) material untuk memisahkan tubuh korban dari jepitan logam secara perlahan. Tim medis turut bersiaga di lokasi untuk memberikan penanganan nyeri, khususnya pada bagian kaki korban yang terjepit.
“Kami tidak ingin ada pergerakan yang malah memperburuk kondisi mereka. Ekstrikasi dilakukan secara perlahan hingga badan korban terpisah dari material yang menghimpit,” tegasnya.
Hingga berita ini ditulis, total korban meninggal dunia tercatat lima orang. Syafii belum dapat memastikan jumlah keseluruhan korban sebelum evakuasi tuntas.
Perkembangan evakuasi akan diperbarui setiap dua jam sekali, sebagaimana disampaikan Direktur PT KAI Bobby Rasydin yang mendampingi Menteri Perhubungan Dudhy Purwaghandy dan Kepala Basarnas dalam konferensi pers di lokasi.



