”Nyawa” Dapur SPPG di Tangan Pengawas Gizi dan Jurutama Masak

”Nyawa” Dapur SPPG di Tangan Pengawas Gizi dan Jurutama Masak

Jakarta – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang menegaskan bahwa nyawa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sesungguhnya berada di tangan para Pengawas Gizi dan Jurutama Masak. Namun, selama ini mereka yang banyak bertugas di dapur, justru jarang dilibatkan dalam kegiatan sosialisasi, pendidikan, dan pelatihan yang diselenggarakan BGN.

“Diteruskan atau tidaknya Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) ini, sesungguhnya ada di tangan anda semua,” kata Wakil Kepala BGN yang membidangi urusan Komunikasi Publik dan Investigasi itu, dalam acara Sosialisasi Keamanan Pangan untuk Pengawas Gizi dan Jurutama Masak SPPG se Provinsi DKI Jakarta, di Jakarta, Sabtu (23/5).

Di tahun 2026 Program MBG akan fokus pada persoalan keamanan pangan atau food safety. Karena itu Nanik menggencarkan kegiatan sosialisasi, pendidikan, dan pelatihan mengenai gizi dan tata kelola memasak, untuk para Pengawas Gizi dan Jurutama Masak di seluruh Indonesia. Hal ini sangat penting, agar mereka dapat memahami dan mengelola proses memasak di dapur SPPG dengan baik, aman, dan sehat.

Nanik lalu mengungkapkan kesedihannya saat menceritakan banyak dapur SPPG yang dia inspeksi selama ini, sebenarnya jauh sekali dari cita-cita Presiden saat merancang Program MBG. Misalnya, Presiden menghendaki agar dapur SPPG adalah bangunan baru. Tapi pada pelaksanaannya, dengan alasan mengejar target penerima manfaat, kini sekitar 80 persen dapur SPPG berasal dari bangunan eksisting, seperti bekas bangunan rumah, café, rumah makan, dan ruko.

Padahal bangunan itu banyak yang sempit dan tak memenuhi petunjuk teknis tentang luas dan layout dapur. Akibatnya alur dapur kacau dan sering menjadi penyebab terjadinya kontaminasi silang serta berdampak pada kasus-kasus insiden keamanan pangan.

“Kalau toh itu (bekas) rumah, seharusnya tetap mengikuti juknis, bukan juknis mengikuti rumah,” ujar Mantan Jurnalis Senior itu.

Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga untuk Pelaksanaan Program MBG itu juga mengungkapkan keheranannya soal luas dapur SPPG yang sempit tapi bisa beroperasi. Menurut petunjuk teknis, luas dapur seharusnya 400 meter persegi. Tapi saat sidak, Nanik masih menemukan banyak “Rumah Liliput” yang dijadikan dapur SPPG.

“Kalau kayak gini belum kejadian, mungkin doa pemiliknya kenceng banget, jadi masih dicintai sama Allah, sehingga belum kejadian,” ujarnya.

Dari hasil temuan saat sidak di berbagai SPPG di hampir seluruh wilayah di Indonesia, Nanik kemudian menginisiasi penyusunan petunjuk teknis SPPG yang baru. Petunjuk teknis itu meliputi Petujuk Teknis tentang Layout, tentang Peralatan, dan tentang Tata Kelola Memasak di dapur SPPG. Selain itu juga akan disusun petunjuk tentang penanganan bahan pangan, dan bank menu.

Nanik kemudian menekankan bahwa di tahun 2026 ini, Presiden telah memerintahkan agar Program MBG harus berkualitas. Karena itu, penambahan dapur SPPG baru akan distop dulu. BGN akan lebih berkonsentrasi dalam mengurus perbaikan kualitas dan tata kelola program MBG.

“Dan yang paling penting, Pengawas Gizi sama Juru Masak ini harus klop,” ujarnya.

Ia lalu mengungkapkan temuannya saat sidak di lapangan, yang membuatnya sering tak habis pikir.

“Kadang-kadang Juru Masaknya ngeyel, merasa paling pinter, Pengawas Gizinya juga sok pinter… Ya kan? Nggak ketemu… Nggak komunikasi yang terjadi… Ayo bener nggak…?” tanya Nanik.

“Betuuul…,” kata para peserta pelatihan.

“Itulah… Terus gimana mau aman makanan, kalau Pengawas Gizi dan Juru Masaknya tidak pernah akur, bahkan tidak pernah ketemu… Beneran… Ada dapur yang Pengawas Gizinya nggak pernah datang. Ada juga Pengawas Gizi yang datangnya pagi sementara masaknya sudah selesai. Gimana… Ditambah Kepala SPPG-nya nggak pernah ke dapur,” ujarnya yang disambut tepuk tangan dan teriakan setuju para peserta.

Nanik mengaku kasihan tiap kali mendengar Presiden berpidato tentang MBG. Sebab, selama ini Presiden tidak mengetahui kondisi riil di lapangan, ketika di bawah ternyata dapur dijalankan secara amburadul. Karena itu Nanik berusaha keras meluruskan peraturan, SOP, dan petunjuk teknis pengelolaan dapur, termasuk peningkatan mutu sumber daya manusia, seperti sosialisasi dan pelatihan Pengawas Gizi dan Jurutama Masak ini.

Untuk itu, Nanik berharap agar ke depan para Pengawas Gizi dan Juru Masak saling bekerja sama dengan baik dalam mengelola dapur SPPG, sehingga bisa memproduksi MBG yang aman, sehat, dan bergizi. Selain itu, ia juga berencana membuat semacam kursus-kursus atau sekolah untuk para juru masak yang akan dibiayai oleh BGN, serta penyusunan bank menu.

Baca:BGN Lapor 20 SPPG di NTT-NTB Terdampak Kelangkaan Elpiji, Pertamina Patra Niaga Gerak Cepat Isi Pasokan

Share Here:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha