
Lawan Iran, AS Tanggung Ongkos Perang Tembus US$ 1 Triliun
Jakarta – Operasi militer Amerika Serikat (AS) menggempur Iran yang berlangsung hingga saat ini, menelan ongkos yang tidak sedikit. Sejumlah pengamat AS memprediksi ongkos perang AS-Zionis Israel melawan Iran bisa mencapai US$ 1 Triliun atau setara 17 ribu triliun rupiah. wow
Menurut Akademisi Universitas Harvard Linda Bilmes, ongkos perang antara AS dan Zionis Israel melawan Iran diprediksi bakal melampaui angka resmi yang dirilis pemerintah.
Diperkirakan, total biaya perang ini bisa menembus angka US$ 1 triliun atau setara Rp 17.100 triliun (dengan kurs Rp 17.100).
“Saya yakin perang Iran akan mencapai US$ 1 triliun,” ujar Bilmes, dalam wawancara yang dikutip dari CNBC International, Selasa (14/4).
Dalam laporan Pentagon kepada Kongres, operasi gabungan AS-Israel dalam melawan Iran ini telah menghabiskan biaya sebesar US$ 11,3 miliar selama enam hari. Namun, Bilmes menilai angka tersebut belum menghitung kondisi riil di lapangan.
Bilmes memperkirakan biaya jangka pendek perang ini mencapai US$ 2 miliar per hari selama 40 hari konflik berturut-turut. Biaya ini mencakup harga amunisi, pengerahan pasukan, dan kerusakan aset militer.
Menurut Bilmes, biaya jangka pendek sebenarnya bisa lebih tinggi daripada yang dihitung Pentagon. Hal ini karena Pentagon melaporkan angka berdasarkan nilai lama barang-barang militer, bukan harga terkini untuk menggantikan aset tersebut yang harganya bisa jauh lebih mahal.
Selain itu, kontrak multi tahun dengan perusahaan seperti Lockheed Martin dan Boeing untuk rudal pencegat (interceptor) membuat biaya pengadaan kembali bagi AS menjadi sangat mahal, yakni US$ 4 juta per rudal. Angka ini sangat kontras dengan biaya drone Iran yang hanya membutuhkan US$ 30.000 per unit untuk diproduksi.
Dalam jangka panjang, biaya perang akan terus membengkak karena rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur sekutu di kawasan Teluk yang juga terkena dampaknya. Sementara itu, Gedung Putih telah meminta Kongres untuk menaikkan anggaran pertahanan AS menjadi US$ 1,5 triliun.
Jika disetujui, ini akan menjadi belanja militer terbesar sejak Perang Dunia II. Angka tersebut bahkan belum termasuk dana cadangan US$ 200 miliar yang diminta Pentagon khusus untuk perang di Iran.
Pengeluaran besar-besaran ini akan memperbesar defisit fiskal AS. Sebagai perbandingan, saat perang Irak, AS harus menelan total biaya US$ 2 triliun dengan utang publik AS masih di bawah US$ 4 triliun.
Saat ini, utang AS telah melampaui US$ 31 triliun.



