
Keanggotaan Penuh Indonesia Di BRICS Diapresiasi DPR
Jakarta – Strategi politik luar negeri pemerintah Indonesia dengan menjadi anggota penuh Kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan), mendapat berbagai apresiasi positif. Beberapa pimpinan Komisi I DPR RI pun menyambut langkah politik luar negeri Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Salah satunya Wakil Ketua Komisi I DPR RI Budisatrio Djiwandono
“Kami menyambut gembira keanggotaan penuh Indonesia dalam BRICS. Ini adalah wujud sejati dari falsafah politik luar negeri bebas aktif yang ditekankan Presiden Prabowo Subianto,” kata keponakan Presiden Prabowo Subianto itu, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (8/1/2024).
Dengan menjadi anggota penuh BRICS, kata Budisatrio, peran Indonesia dalam geopolitik global akan menjadi semakin kuat. Sebab, dengan menjadi anggota penuh di kelompok ekonomi ini, Indonesia menegaskan bahwa negeri ini mempunyai kedaulatan untuk menjalin diplomasi dengan semua pihak, serta menciptakan relasi yang setara dan saling menguntungkan.
Selain itu, kata Budi Satrio, dengan menjadi anggota penuh BRICS, Indonesia berpotensi menciptakan tatanan global yang lebih inklusif dan berkeadilan, di tengah tren geopolitik global yang cenderung berorientasi pada kepentingan dalam negeri masing-masing negara ketimbang mendorong kolaborasi ekonomi yang setara dan berkelanjutan.
Menurut Budisatrio, keanggotaan penuh Indonesia di BRICS juga dapat membuka peluang strategis untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui diplomasi multilateral yang lebih kuat dan inklusif.
“Pengaruh diplomatik Indonesia perlu kita manfaatkan dalam mengangkat isu Palestina yang sejalan dengan amanat UUD 1945,” ujarnya.
Budisatrio membantah langkah pemerintah menjadi anggota penuh di BRICS sebagai langkah konfrontatif dengan blok ekonomi barat. Menurut dia, sepak terjang politik luar negeri Indonesia selalu membawa politik bebas aktif yang terbukti dengan keterlibatan di berbagai forum internasional seperti OECD, APEC, G20, maupun OKI.
Artinya, kata Budisatrio, keanggotaan Indonesia di BRICS ini bukan bentuk konfrontasi dengan pihak mana pun. Ia lalu mengutip pesan Presiden Prabowo, bahwa ‘seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.
“Hal ini yang perlu kita pahami dari keterlibatan Indonesia di mana pun nantinya,” katanya.
Oleh sebab itu, dia menyarankan kepada Pemerintah agar kepentingan nasional tetap menjadi agenda utama yang diperjuangkan dalam setiap relasi diplomatik yang dibangun.
“Bahkan, ketika kita turut memperjuangkan tatanan yang lebih baik sebagai warga dunia, kita tetap perlu menjadikan kepentingan dalam negeri sebagai acuan dari setiap kebijakan luar negeri,” ujarnya.
Pada Senin, 6 Januari 2025 lalu, Brasil sebagai pemegang presidensi BRICS tahun ini mengumumkan bahwa Indonesia telah resmi menjadi anggota organisasi perokonomian internasional yang diinisiasi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.
“Indonesia, yang memiliki populasi dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, memiliki kesamaan pandangan dengan anggota-anggota BRICS lainnya dalam dukungannya pada reformasi institusi global dan kontribusi positif untuk menguatkan kerja sama antara negara-negara Selatan Global,” demikian pernyataan pemerintah Brasil.



