Israel Tunda Pelaksanaan Ketentuan Kemanusiaan

Israel Tunda Pelaksanaan Ketentuan Kemanusiaan

Gaza City – Israel menunda pelaksanaan ketentuan kemanusiaan dalam kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 19 Januari. Kepala Kantor Media Pemerintah Gaza, Salama Marouf, mengatakan hal itu dalam konferensi pers di Gaza City Jumat (7/2/2025).

Dalam konferensi pers di Rumah Sakit Al-Ahli Baptist, Gaza City itu, Marouf mengecam keras. “Meskipun sudah 20 hari sejak kesepakatan berlaku, situasi kemanusiaan tetap kritis akibat hambatan yang dilakukan Israel,” ujarnya.

Marouf mengatakan bahwa ketentuan kemanusiaan dalam kesepakatan itu mengharuskan masuknya 600 truk bantuan setiap hari, termasuk 50 truk bahan bakar, serta penyediaan 60.000 unit hunian darurat, 200.000 tenda, generator, suku cadang, panel surya, dan material untuk rekonstruksi Gaza.

Kesepakatan juga mencakup pengangkatan puing-puing, rehabilitasi fasilitas kesehatan, roti, dan infrastruktur, serta memastikan pergerakan pasien dan korban luka melalui perbatasan Rafah.

Namun, kata Marouf, sejak 19 Januari, hanya 8.500 truk yang memasuki Gaza, jauh di bawah target 12.000 sesuai perjanjian. Sebagian besar truk yang masuk hanya membawa paket makanan, buah, dan sayuran, sementara bantuan krusial seperti perlengkapan tempat tinggal dan alat medis sengaja ditunda.

Marouf memastikan bahwa Israel terus menunda pelaksanaan ketentuan kemanisiaan dalam gencatan senjata.

“hanya 10 persen dari jumlah tenda yang dibutuhkan telah masuk ke Gaza, dan Israel belum mengizinkan satu pun unit hunian darurat dikirimkan.”

Soal bahan bakar, Marouf mengungkapkan bahwa hanya 15 truk yang diizinkan masuk setiap hari, jauh di bawah angka yang disepakati, yakni 50 truk. Hal ini berdampak besar pada rumah sakit dan layanan publik lainnya.

Marouf juga mencatat bahwa organisasi internasional telah memberi tahu otoritas Gaza bahwa “Israel menolak mengoordinasikan masuknya material dasar yang diperlukan untuk memperbaiki jaringan air dan limbah di Gaza utara.”

Karena itu, Marouf menyerukan kepada masyarakat internasional agar tidak tinggal diam menghadapi bencana kemanusiaan ini, serta memperingatkan bahwa “Israel menggunakan taktik pengepungan sebagai bentuk genosida dan pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina.”

Marouf menekankan bahwa kurangnya alat berat untuk membersihkan 55 juta ton puing menghambat upaya menemukan jenazah korban yang masih tertimbun reruntuhan.

Kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku di Gaza pada 19 Januari, menghentikan perang Israel yang telah menewaskan hampir 47.600 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan wilayah tersebut.

Surat kabar Israel Haaretz mengutip sumber dari rombongan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke Washington, yang mengindikasikan Netanyahu tidak akan melanjutkan tahap kedua kecuali Hamas disingkirkan.

Sementara itu, sejumlah pejabat Israel mengaku khawatir bahwa pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump mengenai “mengambil alih” Gaza dan memaksa merelokasi mereka dapat mengacaukan perundingan.

Sejak 25 Januari, Trump beberapa kali mengusulkan pemindahan warga Palestina dari Gaza ke negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania, dan bahkan Indonesia. Ide ini tentu saja ditolak mentah-mentah negara Arab dan para pemimpin Palestina.

Share Here: