
BI Sebut SRBI Bukan Investasi Bagi Perbankan
Jakarta – Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) ditujukan sebagai instrumen pengelolaan likuiditas (liquidity management) bagi perbankan, bukan sebagai instrumen investasi jangka panjang untuk mengakumulasi aset.
Pjs. Gubernur BI Destry Damayanti merespons tingginya porsi kepemilikan perbankan atas instrumen tersebut.
Destry menyampaikan bahwa saat ini sekitar 63 persen outstanding SRBI dimiliki oleh bank. Sementara porsi kepemilikan bank atas Surat Berharga Negara (SBN) relatif lebih terkendali, yakni sekitar 19-20 persen.
“Karena itu, kebijakan kami ke depan terhadap SRBI akan lebih targeted, yaitu mendorong masuknya inflow,” kata Destry, di Jakarta, Senin (3/8).
Destry juga menyebut bahwa imbal hasil SRBI mulai menurun. Bahkan, outstanding SRBI per Jumat (31/7) tercatat sekitar Rp1.050 triliun, turun sekitar Rp40 triliun dalam setengah bulan dari posisi tertinggi sekitar Rp1.097 triliun pada 16 Juli 2026.
Destry menyoroti masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yakni sekitar Rp2.500 triliun yang menandakan ruang bagi perbankan untuk menyalurkan kredit masih terbuka.
“Artinya, sebenarnya masih ada ruang bagi perbankan untuk menyalurkan dananya. Namun ruang tersebut belum dimanfaatkan secara optimal,” tutupnya.
Baca:Menko Perekonomian Airlangga Beberkan 3 Indikator Makro Saat Ini



