Seskab Teddy Balas Kritik Dino Patti Djalal Soal Kunker Luar Negeri Prabowo

Seskab Teddy Balas Kritik Dino Patti Djalal Soal Kunker Luar Negeri Prabowo

Jakarta – Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya angkat bicara merespons kritik yang dilayangkan pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, terkait intensitas kunjungan luar negeri (kunker LN) Presiden RI Prabowo Subianto.

​Melalui unggahan resmi di akun Instagram @sekretariat.kabinet, Teddy membeberkan sejumlah poin argumentasi sekaligus meluruskan tudingan yang menyebut kunker tersebut tidak efisien dan hanya bersifat seremonial.

Efisiensi Anggaran dan Pemangkasan Rombongan

​Teddy menegaskan bahwa lawatan luar negeri Presiden Prabowo tidak membebani Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) secara berlebihan.

​”Masalah biaya bila ke luar negeri, ini sudah dijelaskan beberapa kali. Jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” ujar Teddy.

​Selain anggaran, Teddy juga menyoroti pemangkasan jumlah delegasi secara besar-besaran jika dibandingkan dengan era pemerintahan sebelumnya.

  • Era Dino Patti Djalal: Delegasi sekali kunker bisa mencapai lebih dari 120 orang.
  • Era Presiden Prabowo: Jumlah rombongan dipangkas lebih dari separuh, yakni maksimal 50 hingga 60 orang saja.

Diplomasi Aktif di Tengah Krisis Global

​Menjawab kritik mengenai frekuensi kunker dalam 1,5 tahun terakhir, Teddy menjelaskan bahwa dinamika dunia hari ini menuntut kehadiran aktif kepala negara. Terlebih, Prabowo mulai menjabat di tengah situasi global yang sedang membara, mulai dari konflik di Ukraina, Venezuela, hingga ketegangan di Timur Tengah dan Iran.

​Menurutnya, hubungan dekat antar-pemimpin dunia harus dibangun secara konsisten melalui diplomasi preventif, bukan baru bergerak saat krisis sudah melanda.

Deretan Capaian Nyata Kunker Prabowo

​Teddy membantah keras anggapan bahwa kunker Presiden Prabowo minim hasil. Ia memaparkan 7 capaian strategis yang berhasil diamankan pemerintah dalam kurun waktu 1,5 tahun terakhir:

  1. Keanggotaan Tetap BRICS: Menjamin stabilitas stok BBM dan ketahanan pangan nasional di tengah krisis dunia.
  2. Tarif 0% di Uni Eropa: Perjanjian dagang dengan 25 negara Eropa yang sempat mandek belasan tahun, akhirnya berhasil disepakati pada tahun 2025 di era Prabowo.
  3. Realisasi Investasi: Indonesia berhasil mengamankan total investasi masuk sekitar Rp2.430 triliun.
  4. Penguatan Alutsista: Modernisasi alat pertahanan hasil kerja sama taktis dengan Prancis, Amerika Serikat, Rusia, Cina, Inggris, dan negara Eropa lainnya.
  5. Aksi Nyata untuk Palestina: Keberhasilan melakukan drop-off logistik via udara, pengiriman Kapal Rumah Sakit, serta pemberian beasiswa pendidikan bagi 100 anak Palestina di universitas Indonesia.
  6. Evakuasi Cepat WNI: Diplomasi kilat Kementerian Luar Negeri yang berhasil membebaskan dan memulangkan WNI yang sempat diamankan pihak Israel di laut lepas minggu lalu.
  7. Diplomasi Personal Antar-Pemimpin Dunia: Membangun hubungan sedekat mungkin secara personal dengan para kepala negara Barat, Timur, hingga Timur Tengah. Menurut Teddy, hubungan ini harus dipupuk sejak awal, jadi saat Indonesia membutuhkan bantuan atau kerja sama di masa krisis, jalur diplomasinya sudah terbuka lebar.

Sebelumnya, eks Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal sempat menyoroti frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo yang dinilai terlalu tinggi dalam waktu singkat. Kritik tersebut langsung memantik berbagai respons, termasuk dari jajaran Partai Gerindra dan Badan Komunikasi Kepresidenan sebelum akhirnya dijawab secara rinci oleh Seskab Teddy Indra Wijaya.

Share Here:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha