
Pleno Perdana 2026, YGTS Bahas Kesiapan Pujawali Pura Gunung Salak
Jakarta – Yayasan Giri Taman Sari (YGTS) menggelar Rapat Pleno yang melibatkan Ketua & Anggota Dewan Pembina YGTS, Ketua & Anggota Pengawas YGTS, Pengurus Harian YGTS, Ketua Banjar SDHD (Suka Duka Hindu Dharma) se-Jakjaban (Jakarta, Jawa Barat & Banten) dan Ketua & Anggota Tim ad hoc Pembangunan PAJK (Parahyangan Agung Jagatkartta) di Wantilan (Ruang Serbaguna) PAJK, Gunung Salak, Kab. Bogor, Jawa Barat.
Ketua Umum YGTS I Gede Darmayusa mengatakan bahwa hari ini adalah rapat pleno YGTS yang pertama di tahun 2026. Ia menambahkan, agenda utama adalah membahas empat hal. Pertama, evaluasi program YGTS tahun 2025. Kedua, program pembangunan di Parahyangan Agung Jagatkartta yang sedang dikerjakan maupun yang direncanakan, seperti penyengker (pagar) di sisi Barat. Kemudian yang ketiga adalah membahas mengenai dudonan (susunan) upakara (persembahan suci bebantenan) dan upacara (ritual) yang akan distandarkan sesuai dengan hasil nangkil (kunjungan) ke Griya di Desa Aan, Klungkung, Bali.
“Terakhir, membahas keputusan mengenai kepanitiaan Pujawali/Piodalan (Hari Ulang Tahun Pura) PAJK yang ke-21 (Purnama sasih katiga, Kamis, 27 Agustus mendatang) yang diketuai oleh Ketua Banjar SDHD Kota Bogor,” kata Darmayusa, di Bogor, Minggu (26/4) pagi.
Acara berakhir pukul 13.00 WIB dan dilanjutkan dengan makan siang bersama.
Untuk diketahui Yayasan Giri Taman Sari adalah pengelola Parahyangan Agung Jagatkartta atau Pura Gunung Salak.
PAJK dikukuhkan sebagai salah satu Padma Bhuana Nusantara, yang melambangkan Dewata Nawa Sanga (sembilan penjuru arah mata angin). Pura ini juga dikenal sebagai Pura terbesar di Jawa Barat dan terbesar kedua di Indonesia setelah Pura Besakih, yang terletak di kaki/lereng Gunung Salak.
Terletak di Jln. Gn. Malang, Desa Warung Loa, Ciapus, Sukajadi, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Jarak dari Jakarta ke Pura kurang lebih 70 km. Rata-rata waktu perjalanan dengan kendaraan dari Jakarta sekitar 2 atau 3 jam.
PAJK dalam perkembangannya kelak menjadi tempat pendidikan bagi Pinandita/pemangku dan generasi muda Hindu.
Didirikan di atas lahan seluas 48.580 m². Pembangunannya dimulai tahun 1995 dan diresmikan tahun 2005, didirikan di dekat petilasan Prabu Siliwangi. PAJK menjadi simbol pemersatu umat Hindu, terutama di tanah Sunda.
Baca:Kapolri Buka Muktamar Pemuda Persis, Minta Sinergi Jaga Stabilitas Kamtibmas



