Beberapa Komando Tempur AS Bakal Digabung

Beberapa Komando Tempur AS Bakal Digabung

Washington – Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth diyakini tidak akan menghentikan program perampingan di level pemangkasan personal dan para jenderal semata. Mantan penyiar stasiun televisi Fox News ini tengah mempertimbangkan penggabungan beberapa komando tempur di sejumlah wilayah.

Beberapa analis menyebutkan bahwa pasukan AS di Afrika bisa digabung dengan pasukan AS di Eropa. Begitu juga dengan Komando Selatan AS yang bertanggung jawab atas operasi pasukan AS di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Komando Selatan bisa digabung dengan Komando Utara AS. Penggabungan ini akan mengurangi setidaknya 2 jenderal bintang empat.

Potensi yang sama terjadi pada komandan pasukan Angkatan Darat di Pasifik dan pasukan AS di Semenanjung Korea.

Perampingan ini adalah program jangka pendek yang direncanakan Hegseth. Dalam memo pada 30 April 2025 yang dilansir dari Newsweek, Hegseth mengatakan bahwa Pentagon diarahkan untuk membangun kekuatan militer AS yang lebih ramping, tetapi memiliki efek lebih mematikan.

Cara yang akan ditempuh Gegseth adalah dengan melepaskan program-program yang menurut dia sudah ketinggalan zaman, berlebihan, dan tidak efektif. Restrukturisasi markas besar adalah salah satu langkah yang akan ditempuh.

Dalam memo yang sama, Hegseth menekankan, pengembangan kemampuan peralatan dan persenjataan akan diikuti pengembangan kemampuan sumber daya manusia. Ini terutama untuk pengembangan persenjataan jarak jauh, pertahanan udara, termasuk Golden Dome (teknologi mirip sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome), peperangan elektronik, hingga perang luar angkasa.

Untuk mencapai keinginan itu, Pemerintah AS bersiap merogoh kocek sebesar 36 miliar dollar AS selama lima tahun ke depan. Dana itu terutama untuk mengembangkan kemampuan Angkatan Darat.

Perombakan peralatan besar terakhir Angkatan Darat AS terjadi pada akhir tahun 1970-an dan pertengahan tahun 1980-an. Kala itu diperkenalkan sistem persenjataan ”Lima Besar”, yakni tank M1 Abrams, kendaraan tempur M2/M3 Bradley, helikopter serang AH-64 Apache, helikopter serba guna UH-60 Black Hawk, dan sistem rudal pertahanan udara Patriot.

Hegseth mengatakan bahwa pembenahan kali ini adalah misi Presiden Trump yang harus dijalankan.

”Presiden memberi kami misi yang jelas: mencapai perdamaian melalui kekuatan. Untuk mencapainya, AD AS harus memprioritaskan pertahanan tanah air dan menghalangi China di kawasan Indo-Pasifik. Untuk mencegah perang, dan jika diperlukan menang di medan perang yang berkembang pesat, dibutuhkan prajurit yang tangguh secara fisik dan mental, terlatih dengan baik, dan dilengkapi teknologi terbaik yang tersedia,” katanya.

Neta C Crawford, peneliti militer dan politik internasional Universitas Oxford Inggris, mengatakan, anggaran modernisasi militer AS akan menguras kemampuan perekonomian negara. Menurut dia, hal itu tidak diperlukan karena kekuatan militer China belum sebanding dengan AS. Begitu juga dengan Rusia.

”Pengeluaran ini tidak perlu. Setiap anggaran militer perlu dibentuk oleh strategi militer yang disesuaikan dengan ancaman. China saat ini tidak sebanding dengan AS, dan Rusia merupakan kekuatan militer yang sangat lemah setelah bertahun-tahun bertempur di Ukraina,” ujarnya.

Baca dong: Trump Perintah Pangkas 20 Persen Jenderal di Pentagon

Share Here: