
Status Tanggap Darurat Kabupaten Agam Sampai 18 April
reporter-channel – Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatra Barat sudah mengeluarkan status tanggap darurat, berlaku mulai 5 April sampai dengan 18 April 2024. Bupati menetapkan status tanggap darurat bencana banjir bandang dan lahar dingin di wilayah melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Agam Nomor 187 Tahun 2024.
Pos komando (posko) juga diaktifkan melalui SK Bupati Agam Nomor 188 Tahun 2024, dengan tujuan untuk mengefektifkan penanganan darurat. Melalui mekanisme ini, sumber daya setempat dapat dioptimalkan untuk membantu penanganan darurat di wilayah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut membantu penanganan darurat berupa makanan siap saji 350 paket, sembako 250 paket, biskuit protein 250 paket, selang pompa air sepanjang 500 M, tenda pengungsi 2 set, mesin pompa air 5 unit, hygiene kit 250 paket, matras 250 lembar, selimut 250 lembar dan dana siap pakai sebesar Rp250 Juta.
Menyikapi insiden yang terjadi, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan warga untuk selalu siaga. Hal tersebut tidak terlepas dari prakiraan cuaca di wilayah Agam yang berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan sampai lebat hingga Rabu (10/4/2024). Secara umum prakiraan Selasa (9/4/2024) wilayah Sumatra Barat, masih berpotensi terjadi hujan lebat disertai petir atau kilat dan angin kencang.
Sebelumnya, banjir bandang di wilayah Kabupaten Agam, Sumatra Barat, terjadi pada Minggu malam (7/4/2024). Arus air yang sangat deras membawa material vulkanik Gunung Marapi yang tercatat erupsi berkali-kali sejak 3 Desember 2023 lalu.
BNPB mencatat ada 72 unit rumah warga mengalami kerusakan, 3 rumah diantaranya mengalami rusak berat, 3 jembatan rusak berat dan jalan sepanjang 1 km di jalan limgkar Kampung Patalangan dan jalan Simpang Bukit juga mengalami kerusakan. Lokasi terdampak berada di Kecamatan Canduang, Sungai Pua dan Ampe Angke, Kabupaten Agam. Selain itu banjir juga merusak lahan pertanian di Kecamatan Canduang 20 hektar dan Ampe Angke 21 hektar.
Endapan material vulkanik terpantau menghambat aliran arus air sungai sepanjang 7 km. Kondisi ini dapat berdampak melebarnya dampak genangan pada samping sungai. BNPB mencatat sebanyak 82 KK (270 jiwa) terdampak di Kecamatan Batabuah dan 2 KK (12 jiwa) di Sungai Puah. Sedangkan pengungsian, sebanyak 7 KK (31 jiwa) mengungsi ke rumah wali jorong dan rumah kerabat terdekat.



