
Sidak Keracunan MBG, SPPG 15 Pulo Gebang Tidak Punya SLHS Dan IPAL
Jakarta – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengatakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 15 Pulo Gebang, Jakarta Timur, belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). SPPG tersebut merupakan penyedia santapan bagi siswa sekolah yang keracunan MBG pada pekan lalu.
Nanik mengemukakan hal tersebut saat melakukan sidak pada hari Minggu (10/5) malam di SPPG yang menyajikan Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa Bakmi Djawa, dan diduga menjadi penyebab 147 anak mengalami gangguan pencernaan pada Jumat (8/5).
“Dapur atau SPPG yang menyebabkan gangguan pencernaan itu ternyata belum SLHS, belum punya IPAL (IPAL masih numpang atau di dapur sebelahnya), dan yang gila, tidak punya tempat cuci ompreng,” kata Nanik di Jakarta, Selasa (12/5)
Nanik juga menemukan bahwa SPPG 15 Pulo Gebang, Jakarta Timur, tersebut ternyata milik satu orang (satu yayasan) yang memiliki dua dapur.
“Di dapur sebelah, saat saya datang masih beroperasi. Sementara yang sebelahnya tidak beroperasi karena sudah ditangguhkan (suspend) begitu ada kejadian hari Jumat. Terus, cuci omprengnya di mana? Numpang lagi dapur sebelahnya, dan yang gilanya lagi, tidak punya steam (alat pemanas) untuk cuci ompreng,” ujar Nanik.
Dalam sidak tersebut, Nanik juga menemukan bahwa SPPG 15 Pulo Gebang tidak menggunakan galon dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) seperti yang disarankan oleh BGN.
“Saya enggak membayangkan, dua dapur, satu tempat cucian ompreng, tidak ada steam ompreng, seperti apa tingkat kejorokannya. Ditambah yang lebih parah, tidak menggunakan air galon ber-SNI seperti yang disarankan oleh BGN pusat,” tuturnya.
Nanik juga menjelaskan 33 siswa yang sempat mengalami gangguan pencernaan sempat dirawat, namun pada hari Senin (11/5) kemarin sudah pulang ke rumah masing-masing.
BGN juga menyatakan telah memberikan surat edaran kepada SPPG yang belum memiliki juru masak atau chef andal agar tidak memasak menu mi.
“Karena seringnya mi bermasalah dengan gangguan pencernaan, kami dari BGN pusat sebetulnya sudah membuat surat edaran agar tidak memasak mi jika belum punya chef andal yang menguasai betul bagaimana teknik memasak mi agar tidak cepat basi. Kami juga sudah menyosialisasikan melalui kepala regional dan koordinator wilayah,” tutur Nanik.
Diketahui pada hari Jumat (8/5), siswa terkena gangguan pencernaan setelah menyantap Bakmi Djawa, ayam suwir, pangsit tahu kukus, tauge rebus, timun, tomat, jamur krispi, dan buah semangka.
Baca:Bukan Cuma Di Daerah, 252 Siswa Di Jaktim Keracunan MBG



