
Sepekan Pencarian 5 Jurnalis Dan 3 Kru Kapal Di Anak Krakatau, Ini Perkembangan Terbarunya
Jakarta – Genap sepekan sejak lima jurnalis dan tiga kru kapal dinyatakan hilang di Selat Sunda, keberadaan mereka masih belum diketahui hingga saat ini. Kedelapan orang yang tengah dalam perjalanan meliput Gunung Anak Krakatau itu pertama kali dikabarkan hilang kontak pada Senin (7/9/2026), setelah komunikasi dengan mereka terputus total sekitar pukul 15.04 WIB.
Sepanjang sepekan pencarian, Tim SAR gabungan telah menempuh berbagai upaya, mulai dari memperluas area pencarian hingga menyisir pulau-pulau di sekitar lokasi kejadian.
Pada hari ketujuh pencarian, tim SAR gabungan menurunkan 18 kapal laut serta satu unit helikopter Basarnas untuk menyisir wilayah pencarian. Kasi Ops Basarnas Banten Rizky Dwiyanto menjelaskan area pencarian dibagi ke dalam enam sektor, dengan total cakupan mencapai 6.649 mil laut persegi.
Sektor X, yang mencakup wilayah seluas 831 mil laut persegi, mendapat perhatian khusus dengan pengerahan 11 kapal, menyusul sejumlah temuan barang yang sempat ditemukan di area tersebut sejak hari ketiga pencarian.
Selain lewat laut, tim SAR juga melakukan pencarian darat di sejumlah titik terdekat dengan Gunung Anak Krakatau, meliputi Pulau Sertung, Rakata Besar, dan Pulau Panjang, serta pesisir pantai dari Carita hingga Anyar.
Pada hari keenam pencarian, tim sempat menemukan dua lembar terpal, tiga jaket pelampung oranye, dan satu galon air. Namun Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad menegaskan temuan tersebut ternyata tidak berkaitan dengan delapan orang yang hilang, dan hingga kini titik terang keberadaan para korban belum juga ditemukan.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkap titik koordinat terakhir kedelapan orang tersebut terlacak berada di sekitar Pulau Sebesi pada 7 September, berdasarkan pemantauan sinyal seluler bersama tiga operator telekomunikasi. Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria menyebut pihaknya terus memantau BTS di kawasan Selat Sunda, baik dari sisi Banten maupun Lampung, untuk menangkap kemungkinan sinyal susulan dari perangkat para korban.
Lantaran hasil pencarian hingga hari ketujuh masih nihil, Tim SAR gabungan memutuskan memperpanjang operasi pencarian selama tiga hari ke depan, berdasarkan hasil rapat koordinasi bersama Gubernur setempat. Al Amrad menyebut setiap perpanjangan pencarian akan tetap mengacu pada data dari BMKG dan PVMBG, dengan armada yang sudah disiagakan.
Proses pencarian sempat terhambat kondisi alam, mulai dari asap vulkanik Gunung Anak Krakatau yang membatasi jarak pandang dan menyulitkan pencarian lewat udara, hingga kabut tebal pada Senin (14/9/2026) yang membuat jarak pandang di laut hanya tersisa sekitar satu mil laut. Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syafii sempat menyebut asap vulkanik masih menyelimuti wilayah pencarian hingga ketinggian 1.500 meter, sehingga pemantauan lewat udara belum bisa dilakukan secara maksimal.



