Partai Putin Menangkan Pemilu Legislatif Rusia

Partai Putin Menangkan Pemilu Legislatif Rusia

Jakarta – Partai pemerintah Rusia, Rusia Bersatu, dipastikan maju sebagai pemenang dalam pemilihan parlemen yang dilangsungkan selama tiga hari, sesuai perkiraan sebelumnya. Presiden Putin klaim kemenangan sebagai dukungan bagi kebijakannya.

Partai yang telah berkuasa selama lebih dari 20 tahun ini meraih 57,83 persen suara, berdasarkan data yang disampaikan Ketua Komisi Pemilihan Umum, Ella Pamfilova.

Menurut data Komisi Pemilihan Umum Pusat, Partai Rusia Bersatu akan memperoleh 355 dari total 450 kursi di lembaga legislatif, Duma Negara, ini mencatatkan rekor baru bagi partai tersebut.

Bagi pemerintah Moskow hasil ini jauh lebih baik daripada hasil prediksi sebelum pemilu. Perkiraan sebelumnya, partai tersebut akan memperoleh kurang dari 50 persen suara. Pada pemilu Duma 2021, Komisi Pemilihan Umum Rusia menetapkan bahwa partai tersebut memperoleh 49,8 persen suara.

Partai Komunis, berdasarkan data sementara, meraup 13,84 persen suara, sedangkan partai ultranasionalis LDPR meraih 8,9 persen suara. “Novye Lyudi” (atau partai liberal “Orang-Orang Baru”) meraih 7,94 persen. Partai kiri, “Rusia yang Adil” berada di angka 4,95 persen, sedikit di bawah ambang batas lima persen. Berdasarkan persentase ini maka akan hanya ada empat partai yang memasuki parlemen Duma, bukan lima seperti sebelumnya.

Ini adalah pemilihan legislatif pertama sejak dimulainya invasi Rusia ke pada Februari 2022. Kesepuluh partai yang tercantum dalam surat suara dianggap dekat dengan Kremlin dan mendukung perang tersebut.

Para kandidat yang menentang perang dikecualikan dari pemilihan. Partai liberal antiperang Yabloko tidak diizinkan ikut serta dalam pemilihan. Partai tersebut juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap keselamatan para pendukungnya, setelah dua tokoh utamanya dijatuhi hukuman penjara dalam jangka waktu yang panjang setelah mengeluarkan pernyataan soal perang melawan Ukraina.

Presiden Vladimir Putin menyebut pemungutan suara tersebut sebagai ujian dukungan akan kebijakan yang diambil Rusia. Sebaliknya, pemerintah Ukraina menyebut pemungutan suara itu sebagai “pemilu palsu”.

Baca:KTT BRICS 2026 India, Presiden Prabowo Kembali Ke Tanah Air

Share Here:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha