
Mei Lalu Optimis Sebut Rupiah Menguat Juli 2026, Perry Warjiyo Kini Mundur
Jakarta – Masih ingat kala Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menargetkan nilai tukar rupiah kembali menguat pada Juli 2026. Pernyataan itu disampaikan Perry saat rapat kerja Komisi XI DPR, Senin 18 Mei 2026. Kini, dengan alasan pribadi, Perry ujug-ujug mundur.
Mensesneg Prasetyo Hadi menyebutkan dalam surat pengunduran diri kepada Presiden pada Sabtu (25/7), Perry tidak memberikan penjelasan apapun selain alasan pribadi. Presiden pun menghormatinya.
Sementara itu, menurut Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti, kepemimpinan bank sentral Indonesia tetap dilakukan secara kolektif kolegial seperti yang telah berjalan selama ini.
“Di Bank Indonesia, kepemimpinan ini adalah kolektif kolegial. Jadi, tentunya nanti kami berlima di sini akan terus melanjutkan tugas dan amanah yang harus dijalankan oleh Bank Indonesia secara kolektif kolegial,” kata Destry di Jakarta, Senin (27/7).
Usai pengunduran diri Perry Warjiyo, Destry juga memastikan bahwa bank sentral Indonesia akan terus menjalankan tugas dan mandat yang diberikan sesuai dengan mekanisme yang selama ini berlaku, serta mengacu pada praktik terbaik internasional.
Secara keseluruhan, BI menyatakan bahwa pengunduran Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI pada Sabtu (25/7) dilakukan secara sukarela karena alasan pribadi.
Pengunduran diri itu sesuai dengan Pasal 48 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
Adapun penetapan Destry sebagai Pejabat Gubernur Sementara diputuskan melalui Rapat Dewan Gubernur pada Minggu (26/7), sesuai Pasal 50 ayat (2) Undang-Undang Bank Indonesia.
Perry Sebut Rupiah Menguat Juli 2026
Perry sebelumnya pernah mengeluarkan pernyataan optimis soal penguatan rupiah.
Pada saat Raker Komisi XI pertengahan mei 2026 lalu, Perry menjelaskan bahwa kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS) meningkat secara musiman pada April-Juni akibat pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, serta kebutuhan ibadah haji. Saat itu rupiah ada di level Rp 17.658 per dolar AS.
“insya Allah nanti Juli akan menguat,” kata eks Gubernur BI Perry Warjiyo saat rapat kerja Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (18/5).
Perry meyakini bahwa rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada dalam kisaran asumsi makro APBN, yakni Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp16.500 per dolar AS.
Sementara rata-rata nilai tukar rupiah secara tahun berjalan (year to date/ytd) berada pada kisaran Rp16.900 per dolar AS.
Selain faktor domestik karena tingginya permintaan valas, Perry menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi kondisi global yang memburuk sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada Februari yang lalu.
Dari sisi arus modal, Perry mengungkapkan bahwa pasar saham mencatat arus keluar (outflow) Rp26,06 triliun pada Januari-Maret 2026, sedangkan pasar Surat Berharga Negara (SBN) mengalami outflow Rp25,1 triliun pada periode yang sama.
Sementara itu, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sempat mencatat inflow pada Januari dan Februari sebelum berbalik mengalami outflow pada Maret seiring meningkatnya tensi geopolitik global.
Untuk menjaga daya tarik aliran modal masuk, jelas Perry, BI meningkatkan suku bunga SRBI sehingga instrumen tersebut kembali mencatat inflow sebesar Rp48,26 triliun pada April dan Rp27,05 triliun pada Mei.
Perry juga mengungkapkan bahwa pembelian SBN oleh investor asing mulai meningkat, sementara aliran dana asing di pasar saham mulai mencatat inflow pada awal Mei meski secara tahun berjalan masih mengalami outflow.
Namun apa daya selang dua bulan berlalu, optimisme itu tidak terbukti. Rupiah masih keok dan berada menyentuh level psikologis Rp18.000. Sialnya, yang melontarkan optimisme itu, Gubernur BI Perry Warjiyo, kini mundur.
Baca:Alasan Pribadi, Presiden Prabowo Hormati Pengunduran Diri Perry Warjiyo



