
Lukisan ‘Tikus dalam Burung Garuda’ Telah Diturunkan. Kenapa?
Banjarmasin – Ternyata lukisan berjudul ‘Tikus dalam Burung Garuda’ karya pelukis Rokhyat sudah diturunkan dari ruang pameran Badri Gallery di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Alasan penurunan lukisan metafora yang menggambarkan seekor tikus memakai baju garuda Pancasila itu cukup menarik: faktor keamanan.
Seharusnya lukisan metafora itu dipajang dalam pameran tunggal Rokhyat bertajuk ‘Maestro’ di Badri Gallery sejak 1 Januari hingga 18 Maret nanti. Namun, karena faktor keamanan tadi, lukisan itu hanya dipajang hingga tanggal 8 Februari lalu.
Penurunan karya itu, menurut Badri, pemilik sekaligus kurator galeri dilandasi atas diskusi dirinya dengan Rokhyat, sang seniman.
“Tidak ada tekanan sama sekali dari pihak eksternal. Kita mengambil tindakan itu (menurunkan lukisan) untuk menjaga keamanan karya,” kata Badri di Banjarmasin, kemarin, Selasa (25/2/2025).
Menurut Badri, ia akan kembali memajang lukisan berjudul ‘Tikus dalam Burung Garuda’ itu setelah sisi keamanan untuk menjaga karya seni itu rampung dipersiapkan. Rencananya, lukisan itu akan kembali ditampilkan pada 26 Februari.
“Kita menyikapinya keamanan dari sisi display kita tambah kita bikin satu ruangan dan itu ada jarak antara apresitor dengan karya,” kata Badri.
Sebagai seorang kurator, Badri mengatakan bahwa Garuda yang digambar dalam lukisan itu merupakan sosok yang kokoh. Namun, ada makna lain yang juga tergambar dalam lukisan berjudul ‘Tikus dalam Burung Garuda’ itu.
“Garuda yang saya amati sebagai perspektif garuda yang kokoh, meskipun dalam lapisan-lapisan makna yang ingin disampaikan ada makna kritik, ada makna tentang kegelisahan, tapi yang saya lihat garuda di situ tetap menjadi garuda yang gagah,” ujarnya.
Dalam karyanya, Rokhyat menyampaikan pesan kuat tentang kekuatan nasional dan kenyataan sosial yang kompleks. Garuda, sebagai lambang negara Indonesia, adalah simbol kebanggaan, kekuatan, dan kejayaan bangsa. Sebaliknya, tikus melambangkan hal negatif, seperti korupsi, penggerogotan atas hak milik, dan keserakahan.
Kombinasi tikus dalam tubuh garuda memancing berbagai interpretasi. Misalnya tentang banyaknya koruptor di Indonesia yang kebal hukum karena mengatasnamakan negara. Ada pula tentang masalah tersembunyi di balik kemegahan, atau ketidakberesan dalam sistem yang seharusnya kuat.
Sementara itu, gambar tulang bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika” yang digenggam cakar garuda menampaknan adanya warna merah darah di tengah tulang, yang mentes ke bawah akibat patahnya tulang. Ilustrasi itu seolah menggambarkan kondisi bangsa ini, yang masih penuh ketidakadilan antar suku, daerah, agama, maupun strata sosial, yang melahirkan perseteruan.
Jelas, lukisan “Tikus dalam Burung Garuda” bukan sekadar karya seni visual. Lukisan itu juga merupakan sebuah pernyataan artistik tentang keadilan sosial, simbolisme nasional, dan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat dan bangsa Indonesia.

