Ini Dia Penyebab Ratusan Siswa SMP Di Buleleng Tak Lancar Membaca

Ini Dia Penyebab Ratusan Siswa SMP Di Buleleng Tak Lancar Membaca

Buleleng – Kabar tentang ratusan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Buleleng, Bali, yang belum lancar membaca sungguh mengejutkan khalayak. Namun, kata Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Buleleng, Bali, I Made Sedana, persoalan siswa SMP belum lancar membaca tak hanya terjadi di Buleleng, tapi juga di kabupaten lain di Pulau Bali, bahkan di seluruh Indonesia.

Berdasarkan data yang dihimpun Dewan Pendidikan Buleleng, dari 34.062 siswa di Buleleng, 155 siswa SMP termasuk dalam kategori tidak bisa membaca (TBM). Sementara, 208 siswa siswa lainnya dalam kategori tidak lancar membaca (TLM). Ratusan siswa itu adalah pelajar dari 70 sekolah swasta dan negeri.

Menurut Sedana, angka itu masih fluktuatif. Pada awal pendataan, 400 siswa dinyatakan belum lancar membaca. Setelah diskrining, beberapa keluar dari zona itu. “Sehingga ada 360 siswa dari 70 SMP negeri dan swasta, itu 1 sekolah ada 8 (siswa yang belum lancar baca) ada 1 sekolah hampir 20 siswa yang belum lancar baca,” kata Sedana, Selasa (15/4/2025).

Sedana lalu mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan ratusan siswa SMP di Kabupaten Buleleng, belum bisa membaca dengan lancar. Di antaranya, faktor motivasi belajar yang rendah, peran orang tua yang tidak memperhatikan anaknya untuk belajar, dan faktor disleksia gangguan pada neuron anak.

“Pertama, motivasi belajar anak itu rendah, itu di angka 50 persen. Kemudian peran orang tua di angka hampir 20 persen, yang lain itu ada karena faktor disleksia jadi ada gangguan pada neuron mereka, di kemampuan mereka untuk mencerna pelajaran jadi ada di otak itu,” kata dia.

Ada juga faktor lain-lain, sekitar 55 persen. Misalnya faktor gurunya, faktor lingkungan sekolah dan sebagainya. Selain faktor motivasi belajar para siswa yang rendah, saat ini para siswa juga lebih senang bermain game yang tidak mengedukasi.

“Jadi banyak faktor yang menyebabkan (tidak lancar membaca),” kata Sedana.

Faktor anak-anak yang suka main handphone dan kecanduan media sosial juga sangat berpengaruh kepada tingkat pembelajaran siswa dan bahkan ada siswa yang tidak bisa menulis di buku pelajaran.

Selain motivasi belajar rendah, rasa ingin tahunya atau ingin belajarnya pun rendah sekali. Faktor disleksia hanya 10 sampai 15 persen saja.

“Yang dominan karena motivasi mereka, yang kedua mungkin karena orang tua dan lingkungan, yang lainnya soal kurikulum, dan termasuk faktor media sosial,” ujarnya.

Sedana juga mengungkap temuannya, tentang anak-anak yang lancar membaca, tapi ketika disuruh menulis, ternyata dia tidak bisa. Sementara, ketika dia disodori handphone untuk mengetik ternyata lancar sekali.

“Berarti ada budaya menulis yang hilang di kalangan anak muda,” ujarnya.

Namun, ia mengakui bahwa data lengkap tentang siswa yang bisa membaca namun tak bisa menulis, lantaran terbiasa menggunakan gawai untuk menulis secara digital, tetapi tidak biasa menulis dengan menggunakan pena.

“Kalau itu data-nya belum saya cek. Tapi ada indikasi, banyak anak yang bisa membaca tapi enggak bisa menulis,” ujarnya.

Jika benar hal itu terjadi, ia menduga budaya menulis siswa menjadi hilang karena terbiasa pakai gadget dan laptop. Mereka pun sedikit-sedikit mem-print tulisan di gawai atau laptop itu. Lalu, bagaimana merangsang kembali tradisi menghitung, membaca dan menulis seperti dulu?

“Bagi kami, kalau dia menulis pasti bisa membaca dan pikirannya atau otaknya itu berproses,” ujarnya.

Baca dong: Ratusan Siswa SMP di 70 Sekolah di Buleleng Tak Lancar Membaca

Share Here: