Ratusan Siswa SMP di 70 Sekolah Di Buleleng Tak Lancar Baca

Ratusan Siswa SMP di 70 Sekolah Di Buleleng Tak Lancar Baca

Buleleng – Ratusan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Buleleng, Bali, ternyata belum lancar membaca. Berdasarkan data yang dihimpun dari 34.062 siswa di Buleleng, 155 siswa SMP termasuk dalam kategori tidak bisa membaca (TBM). Sementara, 208 siswa siswa lainnya dalam kategori tidak lancar membaca (TLM). Ratusan siswa itu adalah pelajar dari 70 sekolah swasta dan negeri.

Menurut Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Buleleng, Bali, I Made Sedana, angkanya masih fluktuatif. Pada awal pendataan, 400 siswa dinyatakan belum lancar membaca. Tadi setelah diskrining, beberapa keluar dari zona itu.

“Sehingga ada 360 siswa. Itu ada di 70 SMP negeri dan swasta, 70 sekolah dan tersebar, itu 1 sekolah ada 8 (siswa yang belum lancar baca) justru ada 1 sekolah hampir 20 siswa yang belum lancar baca,” kata Sedana, Selasa (15/4/2025).

Data itu, kata Sedana, belum termasuk data dari sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Ia mengaku telah berkomunikasi dengan Departemen Agama (Depag) di Buleleng, untuk mendata para siswa SMP yang belum lancar membaca. Jadi kemungkinan jumlah itu dapat bertambah.

“Bisa jadi (lebih banyak). Tapi kalau kami menunggu data-nya dulu kami belum bisa menyampaikan secara detail, karena memang proses untuk pendataan. Dan data itu by name by address,” ujarnya.

Sedana memperkirakan persoalan siswa SMP belum lancar membaca tidak hanya terjadi di Kabupaten Buleleng, tetapi di kabupaten lainnya di Pulau Bali maupun di seluruh Indonesia. “Masalahnya tidak hanya di Buleleng, cuma Buleleng yang baru mencoba mendata itu dan persoalannya ada di semua kabupaten di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Menurut Sedana, mereka mencoba mengungkap masalah ini, dengan tujuan agar masyarakat ataupun publik tahu. “Secara bersama-sama menyadari bahwa masalah ini adalah masalah kita bersama, dan jangan saling menyalahkan itu sebenarnya,” kata dia.

Ia yakin persoalan ini juga terjadi di kabupaten lainnya. Sebab persoalan utamanya adalah pengaruh media sosial, dan berbagai faktor.

“Kalau ada kabupaten lain memastikan itu silahkan, masing-masing kabupaten, Disdikpora, dengan dewan pendidikannya, mendata kembali persoalan itu, ada atau tidak. Saya yakin dari seribuan anak pasti ada persoalan ini,” ujarnya.

Sedana berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali lewat Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten dan Kota di Provinsi Bali mendata semua siswa SMP di Pulau Dewata yang belum lancar membaca dan menulis. Jika hal ini dilakukan maka mereka bisa menyelesaikan persoalan ini dengan baik.

Menurut dia, yang pertama harus dilakukan adalah mengumpulkan data dari setiap kabupaten di Bali, tentang bagaimana kondisi anak-anak yang tidak bisa baca, atau membaca tidak lancar atau bisa membaca tapi tidak bisa menulis. “Dari data itu, silahkan apa kebijakan yang berbasis data sehingga menyentuh persoalan ini,” ujarnya.

Baca dong: Ini Dia Penyebab Ratusan Siswa SMP di Buleleng Tak Lancar Membaca

Share Here: