Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam Akibat Perang AS-Iran

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam Akibat Perang AS-Iran

Jakarta – Harga minyak dunia melonjak tajam setelah konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas. Ketegangan ini memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global.

Berdasarkan data OilPrice.com per 2 Maret 2026, harga minyak mentah utama naik lebih dari 8 persen dalam satu hari.

WTI Crude naik ke level sekitar US$72 per barel
Brent Crude melonjak ke kisaran US$79 per barel
Murban Crude bahkan hampir menyentuh US$82 per barel

WTI Crude atau West Texas Intermediate merupakan minyak mentah asal Amerika Serikat yang menjadi acuan harga minyak di kawasan Amerika Utara. Brent Crude berasal dari Laut Utara dan digunakan sebagai patokan utama harga minyak dunia. Sementara Murban Crude diproduksi di kawasan Timur Tengah dan menjadi acuan penting untuk perdagangan minyak ke Asia.

Kenaikan harga ini terjadi setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran, termasuk tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan tersebut membuat pasar global khawatir akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Harga minyak Brent sempat melonjak hingga lebih dari 12 persen sebelum turun sedikit dan stabil di sekitar US$80 per barel. Menurut laporan Reuters, lonjakan ini dipicu oleh aksi militer yang terjadi sepanjang akhir pekan.

Para analis memperingatkan harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel jika perang terus berlanjut. Risiko lain yang dikhawatirkan adalah terganggunya jalur distribusi minyak dunia, terutama di Selat Hormuz, meskipun negara-negara OPEC+ telah berupaya meningkatkan produksi.

Sementara itu, The New York Times melaporkan bahwa harga minyak global naik sekitar 10 persen saat pasar dibuka, yang dapat berdampak langsung pada kenaikan biaya hidup masyarakat dunia. CNN juga mencatat harga minyak mentah AS naik sekitar US$5 per barel.

Meski harga gas alam hanya naik tipis, pasar energi secara keseluruhan masih dalam kondisi tidak stabil. Para ahli memperkirakan harga bahan bakar, termasuk bensin, bisa ikut naik dan membebani pemulihan ekonomi di berbagai negara.

Konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda ini membuat dunia bersiap menghadapi potensi krisis energi global dalam waktu dekat.

Baca dong: AS Menyerang, Iran Tutup Selat Hormuz

Share Here: