
Ini Alasan Harga Beras Melonjak
reporter-channel – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai, harga beras melonjak disebabkan karena seretnya pasokan gabah kering panen di tingkat penggilingan. “Hari ini, saudara kita penggiling padi tidak dapat GKP dengan cukup. Harga pasti akan naik,” kata , Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi, hari ini, Kamis 24 Agustus 2023.
Produksi beras di semester dua tahun ini, kata Arief, memang diprediksi lebih rendah dari pada semester sebelumnya. Mengatasi kondisi itu, pemerintah berusaha meningkatkan cadangan pangan pemerintah (CPP).
Saat ini, Perusahaan Umum Bulog sudah mengamankan stok beras 1,6 juta. Stok beras sebanyak itu berasal dari penyerapan dalam negeri dan impor. Stok beras Bulog akan digunakan untuk intervensi pasar serta pemberian bantuan pangan. “Bantuan pangan akan dikerjakan kembali mulai Oktober sampai Desember 2023. Masing masing 10 kg per bulan untuk 21,3 juta KPM (keluarga penerima manfaat (KPM),” kata Arief.
Badan Pangan PBB atau Food and Agriculture Organization (FAO) pekan lalu telah mengumumkan bahwa harga beras dunia melonjak naik dan mencapai level tertinggi dalam 12 tahun terakhir. Kondisi ini diperkirakan akan memicu lonjakan inflasi pangan di Asia.
Penyebab utama lonjakan beras dunia dipicu dua hal. Pertama, larangan ekspor India sejak bulan lalu. Kedua, ancaman cuaca buruk akibat El Nino yang menghancurkan produksi beras. “Harga beras global sangat mengkhawatirkan. Volatilitas harga pangan akan terus berlanjut dalam beberapa bulan mendatang,” kata Direktur Senior Bank Pembangunan Asia Qingfeng Zhang Rabu 23 Agustus 2023.
Untuk memperkuat cadangan beras pemerintah, pekan lalu Wamenlu Pahala Mansury bertemu dengan Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Kamboja, Dith Tina dan ketua CRF untuk membahas pembelian beras dari Kamboja. Delegasi RI terdiri dari Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi serta perwakilan dari tiga BUMN, yakni Bulog, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).
Dalam pertemuan itu Indonesia sepakat membeli 125.000 ton beras dari Kamboja. “Sebanyak 100.000 ton beras dibeli melalui Bulog dan Green Trade serta 25.000 ton beras mewah antara Bapanas dan anggota Federasi Beras Kamboja,” demikian pernyataan Kementerian Perdagangan Kamboja Kamis, 17 Agustus lalu.
Kamboja juga menyatakan kesiapannya untuk memasok hingga 250.000 ton beras tiap tahun untuk memperkuat cadangan pangan Indonesia. Ketua Federasi Beras Kamboja (CRF) mengatakan, produksi beras Kamboja tahun lalu mencapai 11,62 juta ton dan 3,5 juta ton di antara surplus yang bisa diekspor ke berbagai negara. (HW)



