
ESDM Dukung Perpanjangan Izin Ekspor Konsentrat Tembaga
Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendukung perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI), namun harus sesuai dengan syarat dan ketentuan yang ditetapkan.
“Kami mendukung, (tetapi) syarat dan ketentuan berlaku,” kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat.
Izin ekspor konsentrat tembaga telah berakhir sejak 31 Desember 2024. Akan tetapi, pada Oktober 2024, terjadi kebakaran yang menimpa unit pengolahan asam sulfat milik smelter Freeport di Gresik.
Insiden itu menyebabkan Freeport belum bisa berproduksi lantaran operasional milik Freeport di Gresik terhenti sementara waktu. Hal inilah yang menyebabkan Freeport mengajukan perpanjangan ekspor ke pemerintah.
Menurut Tri hingga saat ini, pemerintah belum memberikan izin ekspor konsentrat kepada Freeport. Sebab, pemerintah baru merampungkan proses investigasi atas kebakaran di smelter itu.
Berdasarkan hasil investigasi itu, Tri mengatakan bahwa kesimpulannya tidak ada unsur kesengajaan. “Kalau ada kesengajaan, asuransi dia nggak cair. Itu kan diasuransikan,” ujarnya pula.
Smelter yang mengalami kebakaran itu direncanakan mulai beroperasi kembali pada bulan Juli 2025, dan secara bertahap akan meningkat hingga mencapai 100 persen pada bulan Desember 2025.
Namun, Tri belum bisa memastikan, apakah izin ekspor konsentrat tembaga akan diberikan setelah perbaikan smelter yang terbakar itu selesai.
“Pokoknya masih dalam proses,” kata Tri.
Sebelumnya, Wakil Presiden Direktur PTFI Jenpino Ngabdi mengatakan bahwa smelter PTFI sedang melaksanakan perbaikan setelah terjadi kebakaran yang menimpa unit asam sulfat pada Oktober 2024.
“Diharapkan pada Juli bisa beroperasi, sehingga kami bisa menyerap tenaga kerja dan produk kami bisa dipasarkan baik untuk market domestik maupun internasional,” kata Jenpino.
Menurut Tri Winarno, PT FI kini mengurangi kapasitas produksi konsentrat tembaga hingga 40 persen. Kini, kapasitas produksinya hanya tersisa 60 persen. Langkah yang dilakukan Freeport karena tempat penyimpanan konsentrat tembaga atau stockpile sudah melebihi kapasitas.
“Sudah full. Kalau misalnya stockpile-nya (tempat penyimpanan) sudah penuh, kan, otomatis produksinya akan turun,” kata Tri.



