DeepSeek Gemparkan Dunia

DeepSeek Gemparkan Dunia

Hangzhou – DeepSeek gemparkan Dunia. Startup Artificial Intelligene (AI) asal China itu berhasil membuat Wall Street deg-degan, gara-gara chatbot canggihnya. Apalagi startup itu dibuat dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan para kompetitornya dari Dunia Barat. Dari Hangzhou, China Timur, yang sering dijuluki sebagai “Silicon Valleynya China” DeepSeek langsung mencuri perhatian dengan peluncuran produk canggihnya.

Di China, DeepSeek pernah bikin gebrakan. Tahun lalu, DeepSeek yang dijuluki “Pinduoduo AI,” sebuah pada aplikasi belanja daring popular, berhasil mengungguli raksasa belanja daring seperti Alibaba, berkat strategi harga murah.

DeepSeek menuai pujian atas biaya yang efisien. DeepSeek juga dipuji di China karena kemampuannya yang tampaknya bisa mengatasi sanksi Amerika yang bertujuan membatasi akses ke cip berteknologi tinggi yang penting untuk mendukung revolusi AI.

Deep Seek didirikan oleh Liang Wenfeng, seorang ahli teknologi dan pebisnis ulung yang lahir pada 1985. Lulusan Universitas Zhejiang, Hangzhou ini pernah menyatakan keyakinannya bahwa “kecerdasan buatan akan mengubah dunia.”

Dalam sebuah wawancara dengan media berita investasi China, Waves, tahun lalu, Liang mengaku telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari tahu cara menerapkan AI ke sejumlah bidang yang berbeda.

Ia akhirnya berhasil dengan High-Flyer, sebuah firma investasi kuantitatif yang mengkhususkan diri dalam penggunaan AI untuk menganalisis pola pasar saham. Strategi yang ditrapkannya berhasil meraup keuntungan puluhan miliar yuan untuk aset yang mereka kelola.

Hal ini menjadikan High-Flyer sebagai salah satu perusahaan investasi kuantitatif terkemuka di China. “Kami hanya melakukan hal-hal sesuai dengan kecepatan kami sendiri, kemudian menghitung biaya dan harga,” kata Liang kepada Waves.

Pada 2021, Financial Times melaporkan bahwa Liang mulai membeli unit pemrosesan grafis Nvidia untuk proyek sampingan. Para rekanan mengatakan kepada Waves bahwa ia “sama sekali tidak seperti seorang bos dan lebih seperti sosok yang culun”, dengan “kemampuan belajar yang luar biasa”.

Bagi Liang, DeepSeek selalu menjadi proyek yang menggairahkan. Proyek yang penuh gairah itu kini berhasil mengejutkan para pakar industri dan memicu anjloknya saham raksasa produsen cip Amerika, Nvidia. Hal ini juga mendorong Liang langsung terlibat ke dalam lingkaran kekuasaan.

Minggu lalu, Liang tampak duduk dengan jajaran perwakilan bisnis utama lainnya yang bertemu dengan Perdana Menteri China Li Qiang, dalam sebuah seminar mengenai pekerjaan ekonomi pemerintah untuk tahun depan.

Pemerintah Beijing memiliki alasan kuat untuk puas. Keberhasilan DeepSeek mempertanyakan jumlah besar uang yang digelontorkan oleh raksasa teknologi untuk mengembangkan AI generatif tingkat lanjut, serta efektivitas sanksi Barat dalam mencegah pesaing China untuk mengejar, atau bahkan unggul.

Bahkan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan bahwa hal itu adalah “alarm untuk bangun” bagi Silicon Valley. Sementara itu, investor teknologi dan sekutunya, Marc Andreessen, menyatakan bahwa ini adalah “momen Sputnik versi AI.”

Hal itu juga memperkuat seruan bagi Washington untuk bertindak lebih tegas dalam membatasi akses perusahaan China terhadap cip berteknologi tinggi.

Dalam wawancaranya dengan Waves, Liang mengakui bahwa hambatan terbesar yang dihadapinya adalah pembatasan yang diberlakukan Amerika Serikat. “Uang tidak pernah menjadi masalah yang kami hadapi; ini adalah embargo pada cip kelas atas,” katanya.

Namun, di luar urusan geopolitik, guru AI yang “canggih” itu mengatakan bahwa ia berharap teknologi ini dapat membantu memahami lebih dalam tentang pikiran manusia. “Kami berhipotesis bahwa hakikat kecerdasan manusia mungkin adalah bahasa, dan pemikiran manusia pada dasarnya bisa jadi adalah proses linguistik,” katanya.

“Apa yang Anda anggap sebagai ‘berpikir’ mungkin sebenarnya adalah bahasa yang dirangkai oleh otak Anda,” ujarnya.

Share Here: