Brain Rot, Yang Sering Liat Konten Sosmed Wajib Baca Deh…

Brain Rot, Yang Sering Liat Konten Sosmed Wajib Baca Deh…

Depok – Pernah dengar istilah Brain Rot?! Brain Rot ini dinobatkan sebagai Oxford Dictionary’s 2024 Word of the Year sebagai istilah terpopuler tahun lalu. Jika diterjemahkan Brain Rot alias pembusukan otak merujuk pada berkurangnya fungsi dan skill otak seseorang akibat jarang dilatih kemampuan berpikir. Bahaya buat yang kerjaan-nya cuma scroll konten-konten sosmed di ponsel, benarkah??

Pernahkah anda bayangkan rutinitas kita dewasa ini. Otak kita menerima dan memproses segala jenis informasi lebih banyak dari sebelumnya. Bukan semata kuantitas, tapi sayangnya otak dibombardir dengan isi informasi yang buruk atau tidak bermanfaat.

Kondisi ini tidak disadari awalnya, ketika kita kesulitan mengingat hal kecil atau informasi dasar, kemudian konsentrasi berkurang, mudah gelisah dan letih berpikir sehingga berujung tidak mampu mengerjakan tugas atau pekerjaan yang kompleks. Efek-efek ini, menurut studi penelitian muncul salah satunya akibat penggunaan ponsel berlebihan yang berimbas mengubah struktur otak.

Bagi manusia, fungsi otak sangat penting sebagai alat berpikir kompleks, pengambilan keputusan hingga kontrol tindakan. Otak yang hilang fokus menjadi tidak efektif dalam membangun koneksi saraf yang merupakan fungsi untuk manusia belajar dan berkembang.

Layaknya otot, otak seseorang jika tidak dilatih atau difungsikan kemampuan kognitif-nya maka akan melemah. Hal ini berdampak serius pada individu maupun kolektif pada komunitas. Sering sekali kita lihat contohnya nir-empati, emosional alias gampang tersulut amarah dan bertengkar dengan orang lain.

Yang tidak disadari, semakin kita dibombardir informasi atau konten dari media sosial misalnya, justru membuat kita semakin ketagihan. Hal ini tentu berbahaya karena membuat malas, kemampuan otak turun, dan lebih jauh mengubah kesadaran manusia.

brain rot

Lantas mesti ngapain? Dari hasil penelitian hal sederhana ini bisa kita praktekkan untuk mencegah Brain Rot.

Pertama, Nutrisi Digital. Layaknya makanan, konten atau informasi juga memiliki nilai nutrisi yang bermacam. Berlakukan diet informasi. Fungsi menyaring konten atau informasi seperlunya saja yang bermanfaat. Coba tanya diri anda, pernahkah membandingkan porsi membaca proaktif dengan menonton konten sosmed yang isinya semata hiburan?

Kedua, para ahli menyebut latihan kognitif. Otak kita perlu olahraga rutin juga lho. Contoh membaca buku favorit selama 30 menit sehari, kemudian praktek single-tasking atau fokus pada satu hal dalam satu waktu. Hal lain dengan berbicara atau ngobrol serius langsung di dunia nyata tanpa melalui telepon atau menulis tangan.

Ketiga, rutin Digital Detox atau diistilahkan dengan puasa informasi. Misal tidak membuka ponsel atau gadget satu jam pertama seusai bangun tidur. Atau satu hari full dalam seminggu tanpa sosial media, atau sesi kerja reguler tanpa interupsi media sosial. Dengan begini, otak dilatih memproses dan menyatukan berbagai informasi.

Ke empat, koneksi sosial. Interaksi manusia sangat vital untuk kesehatan otak. Studi penelitian memperlihatkan berhubungan sosial bisa menjadi penyaring pengaruh stres, meningkatkan pertumbuhan saraf dan kemampuan kognitif. Interaksi ini tidak termasuk komunikasi virtual, melainkan benar-benar berinteraksi orang dengan orang secara fisik. Karena dengan begitu, sensor otak bisa difungsikan maksimal sehingga menjaganya tetap sehat.

brain rot

Nah terakhir pilihannya ada di tangan kita sendiri, apakah kita dan tentunya anak-anak kita sebagai generasi penerus akan membiarkan bahaya pembusukan otak ini atau mulai mengubahnya pada detik ini juga.

Baca dong: murmer-3-jenis-makanan-rumahan-ini-bisa-jadi-sumber-protein/

Share Here: