
Bikin Keracunan 700 Siswa, BGN Stop Operasional SPPG Karangturi
Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menyetop Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi, Semarang, Jawa Tengah, usai insiden keracunan massal siswa yang mencapai 700 anak. Insiden keracunan yang kembali bermunculan bikin evaluasi atas program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipertanyakan.
Insiden keracunan 700 siswa sekolah usai menyantap menu MBG kembali terjadi. Kini giliran siswa SMK 6 Semarang yang jadi korban. Mereka mengalami pusing, mual, muntah, dan diare.
Kepala BGN Sudaryono langsung menjenguk para korban di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang, yakni di RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum, pada Sabtu (1/8).
“keracunan dari SMK Negeri 6 Semarang ya. Ada sekitar 700-an sekian yang dirawat, sebagian itu ada yang mual, ada yang terus-menerus buang air, dan seterusnya. Dari sekitar 700-an yang dirawat itu sebagian di rumah sakit, dan ada yang di puskesmas. Alhamdulillah, tadi sudah kita tengok kondisinya sudah baik,” ujar Sudaryono lewat keterangan resmi, Minggu (2/8).
Data Dinas Kesehatan Kota Semarang melaporkan sebanyak 707 orang, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru SMK Negeri 6 Semarang, diduga mengalami insiden keamanan pangan usai mengkonsumsi MBG pada Jumat (31/7). Berdasarkan hasil investigasi awal, BGN menduga insiden dipicu oleh beberapa bahan makanan yang masih dalam proses pemeriksaan laboratorium, serta waktu memasak yang terlalu dini sebelum makanan didistribusikan.
Kejadian keracunan berulang, bahkan hingga hampir 1,5 tahun berjalan program MBG disorot publik. Lantas apa terobosan kepala BGN baru soal ini?
“Kita sudah siapkan sistemnya. Ini sekarang sedang kita paksa semua dapur, ada koordinator kecamatan dan lain-lain, sedang kita paksa kerja pakai sistem. Jadi, kapan kol mulai dicacah, kapan dimasak itu semua kita kunci, dan kita lagi siapkan ini (sistemnya), kita kebut semua. Semoga dalam waktu seminggu atau dua minggu ini sudah beres, kemudian, kita harapkan orang tua siswa, guru, dan barangkali dinas kesehatan bisa melihat jam berapa dimasak, apa saja yang dimasak, bumbu apa yang dimasukkan harus kemudian tersistem dan terpantau semua,” ujar Sudaryono.
Baca:Kejadian Lagi, 35 Siswa SDN Malang Keracunan Telur Di Menu MBG



