
Belgia Ejek Trump dan FIFA usai Singkirkan AS
Belgia memastikan tiket ke perempat final Piala Dunia 2026 usai menggilas tuan rumah Amerika Serikat 4-1 pada babak 16 besar di Seattle, Senin (6/7/2026) waktu setempat. Charles De Ketelaere mencetak dua gol di babak pertama, sebelum Hans Vanaken dan Romelu Lukaku menambah masing-masing satu gol di babak kedua.
Dengan hasil ini, Belgia akan menghadapi Spanyol di babak perempat final.
Laga ini sebelumnya diwarnai kontroversi terkait kartu merah yang diterima penyerang AS, Folarin Balogun, saat melawan Bosnia-Herzegovina. FIFA menangguhkan sanksi larangan bermain satu laga untuk Balogun sehingga ia tetap bisa tampil melawan Belgia, keputusan yang ditolak banding oleh pihak Belgia.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui secara langsung telah meminta Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meninjau ulang kartu merah tersebut. UEFA menyebut keputusan FIFA telah “melewati batas” dan mempertaruhkan integritas permainan, sementara Infantino membela independensi komite disiplin FIFA.
Usai mencetak gol keempat, sejumlah pemain Belgia terlihat menirukan gerakan dansa khas Donald Trump yakni mengepalkan tangan dan menggoyangkannya naik-turun sambil sedikit bergoyang pinggul, sebagai bentuk selebrasi sekaligus sindiran. Akun media sosial resmi tim ini turut merespons keputusan pencabutan sanksi Balogun dengan unggahan singkat bernada sindiran, “Overturn this” (Batalkan (juga) yang ini).
Gelandang Belgia, Nicolas Raskin, mengatakan timnya merasakan ada rasa ketidakadilan di internal skuad menjelang laga. Ia menyebut hal itu justru menjadi motivasi tambahan untuk membuktikan diri di lapangan.
Sementara itu, pelatih AS, Mauricio Pochettino, menyatakan kekecewaannya atas campur tangan politik yang menurutnya membayangi perjalanan timnya di Piala Dunia. Ia menegaskan kontroversi tersebut tidak memengaruhi performa timnya di lapangan.
Balogun sendiri menyatakan tidak memiliki keterlibatan dalam proses peninjauan sanksinya dan menyebut hal itu murni keputusan federasi.
Infantino kini menghadapi desakan mundur dari sejumlah pihak, termasuk politisi Inggris, atas keputusan kontroversial tersebut. Meski begitu, posisinya di FIFA disebut masih aman menjelang pemilihan ulang presiden tahun depan.



