
Viral! Debat Sengit dengan Feri Amsari, Abu Janda Diusir dari Talkshow TV
Jakarta – Pegiat media sosial Permadi Arya atau yang dikenal sebagai Abu Janda kembali menjadi sorotan publik setelah terlibat perdebatan panas dalam sebuah program talkshow televisi nasional. Insiden tersebut terjadi saat ia menjadi narasumber dalam acara Rakyat Bersuara di iNews TV pada Selasa malam (10/3/2026).
Perdebatan bermula ketika Abu Janda menyinggung sikap sebagian masyarakat Indonesia yang dinilai memiliki sentimen anti-Amerika Serikat tanpa alasan yang jelas. Menurutnya, kebencian terhadap Amerika sering kali muncul hanya karena emosi semata, tanpa mempertimbangkan konteks sejarah.
Ia menyebut Amerika Serikat memiliki peran penting dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Abu Janda menilai tekanan dari Amerika menjadi salah satu faktor yang membuat Belanda akhirnya meninggalkan Indonesia setelah kembali bersama Netherlands Indies Civil Administration (NICA) pasca-Proklamasi 1945.
“Banyak orang hanya mengingat 17 Agustus. Padahal setelah itu Belanda kembali bersama NICA untuk melucuti tentara Jepang,” kata Abu Janda dalam diskusi tersebut.
Pernyataan itu kemudian ditanggapi oleh mantan Duta Besar Indonesia untuk Tunisia, Ikrar Nusa Bhakti. Ia mencoba menjelaskan konteks keterlibatan Amerika Serikat dalam proses Konferensi Meja Bundar pada 1948-1949.
Ikrar menyarankan agar perdebatan didasarkan pada referensi sejarah. Ia bahkan menyebut buku Nationalism and Revolution in Indonesia karya George McTurnan Kahin sebagai rujukan untuk memahami alasan Amerika turun tangan dalam konflik tersebut.
Menurut Ikrar, langkah Amerika saat itu dilatarbelakangi kekhawatiran bahwa Indonesia akan jatuh ke pengaruh komunisme. Karena itu, ia mengingatkan agar Amerika tidak serta-merta dipandang selalu bertindak demi kepentingan Indonesia.
Namun, perdebatan semakin memanas ketika Abu Janda beberapa kali memotong penjelasan Ikrar. Dalam momen tersebut ia melontarkan kata-kata kasar yang kemudian ditegur oleh moderator acara.
Situasi juga memanas ketika Abu Janda berdebat dengan pakar hukum tata negara Feri Amsari. Feri menyoroti keputusan Presiden Prabowo Subianto yang bergabung dengan Board of Peace (BOP), sebuah forum yang disebut dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menurut Feri, langkah tersebut dinilai tidak etis karena di dalam forum itu juga terdapat keterlibatan Israel. Ia menilai hal itu sensitif mengingat Israel dituduh melakukan kejahatan perang di Palestina, termasuk serangan terhadap warga sipil dan anak-anak.
Feri juga mengingatkan bahwa Palestina memiliki sejarah kedekatan dengan Indonesia. Ia menyebut Palestina termasuk negara yang lebih dahulu memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia secara de facto pada 1945.
Selain itu, Feri menyinggung peran bangsawan Palestina Muhammad Ali Taher yang disebut menyumbangkan seluruh dananya di Bank Arabia untuk membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui diplomat Agus Salim.
“Kalau tidak ada bangsawan Palestina yang menyumbang untuk perjuangan bangsa ini, belum tentu kita merdeka,” kata Feri dalam diskusi tersebut.
Pernyataan itu langsung memicu reaksi keras dari Abu Janda. Ia membantah adanya utang sejarah Indonesia terhadap Palestina dan menyebut narasi tersebut sebagai informasi yang tidak benar.
Perdebatan yang semakin panas membuat suasana acara memanas hingga akhirnya Abu Janda diminta keluar dari studio oleh moderator.
Insiden tersebut kemudian viral di media sosial dan memicu berbagai reaksi publik.
Profil Singkat Abu Janda
Permadi Arya yang dikenal dengan nama Abu Janda lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada 14 Desember 1973. Nama aslinya adalah Heddy Setya Permadi.
Sebelum dikenal sebagai pegiat media sosial dan influencer politik, ia sempat berkarier di berbagai sektor industri. Dalam rentang 1999 hingga 2015, ia pernah bekerja di perusahaan sekuritas, perbankan swasta, hingga industri pertambangan batu bara.
Namanya mulai dikenal luas sejak Pilpres 2019 ketika ia secara terbuka mendukung Joko Widodo dan aktif di media sosial untuk melawan narasi yang ia anggap radikal.
Dari sisi pendidikan, Abu Janda memiliki latar belakang akademik dari luar negeri. Ia meraih diploma Ilmu Komputer dari Informatics IT School di Singapura pada 1997.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan sarjana di University of Wolverhampton, Inggris, dengan jurusan Business & Finance dan lulus pada 1999.
Pada pertengahan 2025, ia sempat disebut diangkat sebagai komisaris di salah satu anak usaha BUMN yang bergerak di sektor jalan tol. Namun kabar tersebut menuai kritik dari sebagian masyarakat yang mempertanyakan kompetensinya.
Deretan Kontroversi
Sepanjang kiprahnya di ruang publik, Abu Janda beberapa kali terlibat kontroversi akibat pernyataannya di media sosial.
Salah satu yang paling ramai terjadi pada 2021 ketika ia menulis pernyataan yang menyebut “Islam arogan”. Pernyataan itu memicu protes dari sejumlah organisasi masyarakat Islam dan membuatnya diperiksa oleh Bareskrim Polri.
Ia juga pernah dilaporkan oleh DPP KNPI terkait dugaan ujaran rasis terhadap mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai setelah menyinggung aspek fisik Pigai dalam sebuah cuitan.
Selain itu, Abu Janda dikenal sering terlibat perdebatan dengan sejumlah tokoh agama seperti Tengku Zulkarnain, Felix Siauw, hingga Ustaz Maaher At-Thuwailibi.
Meski mengklaim dirinya sebagai pembela pluralisme, gaya komunikasi Abu Janda yang keras dan konfrontatif kerap menuai kritik dari berbagai pihak. Insiden terbaru di acara talkshow televisi pun kembali memperpanjang daftar kontroversi yang melibatkan dirinya.

