
Delegasi Trump Buang Semua Barang Pemberian China Sebelum Naik Air Force One
Delegasi Amerika Serikat membuang seluruh barang pemberian pejabat China ke tempat sampah sebelum menaiki Air Force One di Bandara Internasional Beijing Capital, Jumat (16/5/2026). Tidak satu pun benda asal China diizinkan masuk ke dalam pesawat kepresidenan.
Kebijakan tersebut diterapkan secara ketat oleh petugas keamanan Gedung Putih dan Secret Service di kaki tangga pesawat. Barang-barang yang dibuang meliputi ponsel burner, lencana delegasi, kredensial pers, dan berbagai suvenir yang dibagikan selama kunjungan dua hari Presiden Donald Trump ke China.
Hal itu diungkapkan oleh koresponden Gedung Putih dari New York Post, Emily Goodin, melalui akun media sosialnya.
“Staf Amerika mengumpulkan semua yang dibagikan pejabat China, kredensial, ponsel burner, pin delegasi, sebelum kami naik ke Air Force One, lalu membuangnya ke tempat sampah di bawah tangga. Tidak ada barang dari China yang boleh masuk ke pesawat,” tulisnya.
Langkah itu bukan hal baru dalam protokol keamanan delegasi AS di Beijing. Namun kali ini berlangsung di hadapan publik secara gamblang, memicu gelombang reaksi di media sosial.
Analis geopolitik Jurgen Nauditt bahkan berkomentar, “China adalah satu-satunya negara yang olehnya Trump tidak mau menerima suap atau hadiah.”
Kecurigaan terhadap perangkat mata-mata yang tersembunyi dalam bingkisan diplomatik dari China sudah berlangsung lama. Pada 2023, sebuah alat sadap diduga ditemukan di dalam teko yang dihadiahkan kepada staf kedutaan Inggris di Beijing.
Selain membuang barang pemberian, seluruh anggota delegasi AS, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang dan Elon Musk, meninggalkan perangkat elektronik pribadi mereka di Amerika Serikat sebelum berangkat ke China. Ponsel yang dibawa disimpan di dalam tas Faraday di atas Air Force One, yakni tas khusus yang memblokir sinyal nirkabel, GPS, Wi-Fi, Bluetooth, dan RFID.
Selama kunjungan, Donald Trump dan timnya hanya menggunakan ponsel burner serta alamat surel sementara.
Trump sendiri mengakui secara terbuka bahwa praktik saling memata-matai antara AS dan China memang terjadi.
“Itu salah satu hal yang ada, karena kami juga memata-matai mereka habis-habisan,” ujarnya kepada wartawan.
Kunjungan Trump ke China kali ini menghasilkan kesepakatan di bidang kedelai dan pesawat Boeing, namun tidak menghasilkan kemajuan konkret pada isu-isu strategis yang lebih mendasar.



