
Trump Tunda Tarif Resiprokal 90 Hari
Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menangguhkan penerapan skema tarif resiprokal selama 90 hari ke depan. Jeda waktu ini diklaim untuk memberikan kesempatan bagi negara-negara yang mengajukan negosiasi ulang kepada AS.
Penghentian sementara tarif resiprokal atau timbal balik selama 90 hari diumumkan pada Kamis (10/4) dini hari. Skema tarif timbal balik yang lebih tinggi dihentikan sementara sebagai tanggapan atas pendekatan dari puluhan negara.
Dilansir dari New York Post yang mengutip media sosial Truth, AS justru menaikkan bea masuk atas impor dari China sebesar 125% dengan alasan “kurangnya rasa hormat” dari pemerintah Beijing.
“Berdasarkan fakta bahwa lebih dari 75 Negara telah memanggil Perwakilan Amerika Serikat, termasuk Departemen Perdagangan, Keuangan, dan [Perwakilan Dagang AS], untuk merundingkan solusi atas pokok bahasan yang sedang dibahas terkait Perdagangan, Hambatan Perdagangan, Tarif, Manipulasi Mata Uang, dan Tarif Non Moneter, dan bahwa Negara-negara ini tidak, atas saran saya yang kuat, membalas dengan cara, bentuk, atau cara apa pun terhadap Amerika Serikat, saya telah mengesahkan Penghentian selama 90 hari, dan Tarif Timbal Balik yang diturunkan secara substansial selama periode ini, sebesar 10%, yang juga berlaku segera,” tulis Trump.
Sebelumnya, Pemerintah China meminta agar Amerika Serikat (AS) dapat memperlakukan negara lain secara setara dan hormat bila benar-benar ingin melakukan negosiasi soal tarif dagang. Pada hari Rabu (9/4), Komisi Tarif Bea Cukai Dewan Negara China juga mengumumkan pemberlakuan tarif baru, yaitu sebesar 84% terhadap barang-barang asal Amerika Serikat mulai Kamis (10/4) pada 12.00 waktu setempat.
Aksi balasan China tersebut berlaku beberapa saat setelah tarif 104% atas barang-barang asal China yang dikenakan oleh Presiden AS Donald Trump yang efektif mulai Rabu (9/4).
“Jika AS memutuskan untuk tidak peduli dengan kepentingan AS sendiri, China dan seluruh dunia, dan bertekad untuk melawan perang tarif dan perdagangan, respon China akan terus berlanjut sampai akhir,” ucap Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian.
AS, ungkap Lin Jian, masih menyalahgunakan tarif dan memberikan tekanan maksimal terhadap China sehingga pemerintah Negeri Tirai Bambu itu dengan tegas menolak dan tidak akan pernah menerima tindakan hegemonik dan intimidasi tersebut.
Lin Jian pun menyebut ekonomi China memiliki fondasi yang kokoh dan kekuatan pendorong yang cukup untuk pertumbuhan yang stabil melawan segala tantangan, termasuk dengan kepemimpinan yang kuat dari Komite Sentral Partai Komunis China.
Seperti diketahui, Trump mengumumkan kebijakan tarif timbal balik kepada negara-negara yang dianggap merugikan AS. Merujuk pernyataan resmi Trump di situs resmi Gedung Putih AS, alasan pemberlakuan tarif impor bea masuk perdagangan itu adalah kurangnya timbal balik dalam hubungan dagang antara AS dengan negara-negara mitranya.
Baca dong:Indonesia Kena Tarif Resiprokal 32%, INDEF: Pemerintah Harus Segera Negosiasi

