
Trump Ingin Tentukan Pemimpin Baru Iran, Ketegangan dengan Teheran Meningkat

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginannya untuk ikut menentukan pemimpin baru Iran setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam konflik yang sedang berlangsung. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Teheran dan memperdalam ketegangan antara kedua negara.
Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat hanya akan mendukung pemimpin Iran yang dianggap hebat dan dapat diterima, setelah Iran melakukan penyerahan tanpa syarat. Namun hingga kini tidak ada indikasi bahwa pemerintah Iran bersedia menerima tuntutan tersebut.
Hubungan Iran dan Amerika Serikat memang sejak lama diliputi ketidakpercayaan. Pemerintahan ulama di Iran kerap menyebut Amerika sebagai Setan Besar.
Meski terdapat perbedaan pandangan di dalam elite politik Iran, antara kelompok reformis, pragmatis, dan garis keras, mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu mempertahankan sistem Republik Islam yang saat ini berkuasa.
Trump juga mengungkapkan bahwa ia tidak menginginkan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, menjadi pemimpin baru Iran. Mojtaba saat ini disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk menggantikan ayahnya.
Pemerintah Iran menolak keras pernyataan tersebut. Media konservatif Iran melaporkan bahwa Dewan Kepemimpinan Sementara menilai komentar Trump sebagai bukti upaya campur tangan asing terhadap urusan dalam negeri Iran.
“Bangsa Iran tidak akan pernah membiarkan siapa pun mencampuri hak kami untuk menentukan masa depan sendiri,” demikian pernyataan yang dikutip dari pejabat Iran.
Pemilihan pemimpin tertinggi Iran biasanya dilakukan secara tertutup oleh Majelis Ulama atau Assembly of Experts yang terdiri dari sekitar 88 ulama senior. Namun proses tersebut kini berlangsung dalam situasi yang sangat tegang di tengah serangan militer Amerika Serikat dan Israel.
Beberapa nama disebut-sebut sebagai kandidat pengganti, termasuk Hassan Khomeini, cucu dari pemimpin revolusi Iran Ruhollah Khomeini, serta ulama senior Alireza Arafi.
Situasi ini juga dipengaruhi oleh kekuatan besar militer Iran, yaitu Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), yang sejak lama memegang peran penting dalam keamanan, politik, hingga ekonomi negara tersebut.
Hingga kini belum jelas kapan pemimpin baru Iran akan diumumkan. Situasi semakin rumit setelah Israel menyatakan bahwa siapa pun yang muncul sebagai pemimpin baru dapat menjadi target serangan berikutnya.
Di tengah situasi yang memanas ini, Trump bahkan menyatakan bahwa sebagian besar tokoh Iran yang sebelumnya dipertimbangkan sebagai pemimpin kini telah tewas dalam konflik yang sedang berlangsung.
Baca:Bantah Klaim Kerja Sama, Spanyol Larang AS Gunakan Pangkalan Militernya untuk Serang Iran



