Situasi Pendukung Jatuhnya Rezim Assad
reporter-channel – Rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad konon runtuh gara-gara pertempuran antara kelompok Hizbullah dengan Israel. Ini salah satu efek domino akibat serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu, yang kemudian dibalas dengan penyerbuan dan bombardier pasukan Israel ke Gaza.
Koran Inggris, The Guardian, Senin (9/12/2024), memaparkan bahwa kelompok Hizbullah di Lebanon, salah perhitungan dalam membantu Hamas dalam perang di Gaza. Gerakan Syiah Lebanon yang telah lama didukung Iran dalam perjuangan melawan Israel itu membuka front baru di garis biru yang ditetapkan PBB sebagai pemisah antara Lebanon dengan Israel.
Israel meningkatkan kampanye militernya ke Lebanon pada September, setelah hampir setahun saling serang dengan Hizbullah di perbatasan Lebanon-Israel. Ratusan ribu orang mengungsi, dan ribuan orang tewas. Israel pun berhasil memporakporandakan Hizbullah dengan serangan udar,. Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah tewas dalam salah satu serangan itu. Israel juga berhasil mengusir para pejuang Hizbullah dari zona demarkasi melalui serangan darat.
Dua bulan kemudian, Teheran menginformasilam kepada Hizbullah bahwa mereka tak mampu menanggung lebih banyak kerugian lagi. Memang, dalam kampanye militernya, Israel juga menyasar Iran. Hizbullah akhirnya mau berunding, dan menyetujui gencatan senjata dengan persyaratan yang menguntungkan Israel.
Pada hari yang sama dengan gencatan senjata antara Israel dengan Hizbullah, kelompok perlawanan terhadap pemerintah Suriah, Hayat Tahrir al-Sham (HTS) memulai serangan ke kota Aleppo. Milisi HTS dan milisi yang didukung Turki, Tentara Nasional Suriah, tampaknya mencium adanya peluang, bahwa sekutu Assad telah melemah dan tidak terorganisir.
Milisi HTS lalu bergerak ke Aleppo, untuk menghalangi serangan pasukan rezim Bashar Al-Assad yang direncanakan terhadap benteng mereka di Suriah barat laut. Ternyata tentara Damaskus yang korup dan terdemoralisasi tidak siap dan hanya memberikan perlawanan seadanya.
Jatuhnya Assad memutus jalur senjata, material, dan personel militer dari Teheran ke Hizbullah, terutama jika pasukan Kurdi Suriah, yang telah bercokol semakin kuat di perbatasan gurun antara Suriah dan Irak, tetap bertahan dengan dukungan Amerika Serikat. Hizbullah, yang sudah terisolasi, akan semakin melemah, membuatnya lebih rentan terhadap serangan Israel.
Israel tampaknya senang atas perkembangan di Suriah. Apalagi perkembangan itu terjadi setelah kemenangan mereka atas Hizbullah dan terus dibombardirnya pasukan milisi Hamas di Jalur Gaza. Karena itu pasukan Israel pun masuk ke Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Suriah sejak 1974.
Alasan Israel masuk ke Dataran Tinggi Golan adalah untuk membantu menangkis serangan pasukan milisi Suriah terhadap pos PBB di Khader, hanya beberapa ratus meter dari wilayah yang diduduki Israel. Minggu lalu, pasukan Israel mengerahkan dua brigade tambahan ke zona penyangga. Israel khawatir jika persenjataan berat rezim Suriah dan cadangan senjata kimia direbut milisi perlawanan.

