
Ray Dalio Batal Jadi Penasihat Danantara
Jakarta – Ray Dalio, founder dari Bridgewater Associates batal bergabung sebagai dewan penasihat Danantara. Padahal, pada 24 Maret lalu, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah mengumumkan struktur kepengurusan Danantara, dan Ray Dalio masuk dalam jajaran dewan penasihat Danantara.
Selain Ray ada pula nama Helman Sitohang (mantan CEO Credit Suisse Asia Pasifik), Jeffrey Sachs (ekonom AS yang menjadi profesor di Columbia University), F. Chapman Taylor (ahli investasi yang pernah berkarier di Capital Group), dan Thaksin Shinawatra (mantan Perdana Menteri Thailand) yang juga menduduki jabatan sebagai dewan penasihat Danantara.
Kabar tentang batal bergabungnya Ray Dalio ke jajaran dewan penasihat Danantara ini diungkap oleh seorang sumber Bloomberg yang tidak ingin dibocorkan identitasnya. Sumber itu juga tidak menyebut alasan Ray memilih tidak menjadi bagian dari kepengurusan Danantara.
Sumber itu hanya mengatakan jika Ray Dalio tidak menjadi penasihat Danantara. Kabar ini mulai dikait-kaitkan dengan pernyataan dari Danantara baru-baru ini yang tidak lagi menyebut nama Ray Dalio sebagai dewan penasihat Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia itu lagi.
Sebuah sumber reporter-channel di pemerintahan mengatakan bahwa pekan lalu, tim Danantara sudah bertemu dengan anaknya Ray Dalio. Ada banyak hal yang mereka diskusikan, tapi soal mekanisme investasi di Danantara rupanya mereka tidak sepakat.
Menurut sumber itu, Dalio mengatakan bahwa ‘tidak ada ikan besar tanpa umpan besar’. Sementara tim Rosan tampaknya ingin main aman dengan tidak membuka seluruh informasi tentang pembiayaan di Danantara.
Karena itulah, Danantara dinilai tidak transparan. “Mereka menganggap Danantara hanya semacam akal-akalan saja karena menurut mereka sesungguhnya dana segar dari institusi ini tidak ada,” ujar sumber tadi.
Ray Dalio adalah seorang hedge fund manager. Ia dan timnya mengelola uang, bukan aset fisik. Sementara, Sovereign Wealth Fundnya Indonesia hampir seluruhnya aset barang tak bergerak. “Artinya hanya dijadikan collateral untuk mendatangkan dana investor,” kata sumber itu.

