
Protes Trump, Jutaan Orang Berunjuk Rasa Aksi ‘No Kings’ ketiga di AS
Jakarta – Di dalam negeri, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi aksi massa dari warganya memprotes kebijakan. Jutaan orang diperkirakan turun ke jalan di wilayah vital AS pada Sabtu dalam aksi nasional ketiga “No Kings”.
Aksi “No Kings” atau Tidak ada raja bertujuan untuk menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan Trump.
Unjuk rasa tersebut dilaksanakan di semua 50 negara bagian AS serta 16 negara lainnya, sehingga menandai salah satu aksi protes paling terkoordinasi sepanjang sejarah negara itu.
Pelaksana aksi, yang mencakup ormas anti-otoritarianisme Indivisible dan 50501, kemudian serikat pekerja, dan perkumpulan akar rumput lainnya, melaporkan lebih dari 3.000 aksi demonstrasi berlangsung di seantero AS.
Protes “No Kings” sebelumnya pada Oktober 2025 diikuti 7 juta pengunjuk rasa di seluruh AS.
Demonstrasi tersebut dilangsungkan di tengah anjloknya tingkat kepuasan publik terhadap Trump, bahkan ditambah dengan sejumlah pendukung garis kerasnya yang turut mengungkapkan rasa frustrasi.
Keluhan yang disoroti pengkritik Trump dalam unjuk rasa kali ini antara lain konflik dengan Iran yang menewaskan 13 personel AS, kenaikan harga barang dan minyak, tarif impor yang berdampak pada barang sehari-hari, dan antrean pemeriksaan keamanan di bandara yang mengular akibat kebuntuan pembahasan anggaran.
“Sebagian besar rakyat Amerika tak tahu bahwa uang pajak kita digunakan untuk menyubsidi aksi kekerasan,” kata seorang pengunjuk rasa, Hazami Barmada (43), sebagaimana dilaporkan The Guardian.
“Hal ini terjadi ketika banyak rakyat Amerika tak dapat membayar tempat tinggal, susu, sekolah, ataupun layanan kesehatan. Harga-harga naik ketika kita berperang dalam perangnya Israel,” ucap Barmada.
Koalisi “No Kings” menekankan bahwa aksi unjuk rasa mereka adalah tanpa kekerasan, dengan semua bentuk senjata dilarang dan pemimpin aksi diberi latihan deeskalasi konflik.

