Nah lho, WIKA Ungkap Kerugian Rp1,8 Triliun Per Tahun Gegara Proyek Kereta Cepat

Nah lho, WIKA Ungkap Kerugian Rp1,8 Triliun Per Tahun Gegara Proyek Kereta Cepat

Jakarta – Direktur Utama PT Wijaya Karya Tbk Agung Budi Waskito blak-blakan soal kerugian yang diderita imbas proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) alias Whoosh. Gak tanggung-tanggung, pihaknya disebutnya menanggung rugi Rp1,8 triliun. WIKA ingin melepas beban itu namun terkendala Peraturan Presiden.

Menurut Agung, WIKA rugi dari kereta cepat Whoosh sekitar Rp1,7 triliun sampai Rp1,8 triliun.

“Porsi kita itu setiap tahun membukukan kerugian yang memang cukup besar, kalau tahun lalu, kalau tahun 2025 kalau nggak salah Rp 1,7 triliun atau Rp 1,8 triliun membukukan kerugian hampir setiap tahun segitu,” ujar Dirut WIKA, Agung Budi Waskito di Jakarta, Senin (6/4).

Agung menyebut, rugi tahunan itu sangat membebani kinerja keuangan Perseroan. Pihak perseroan menginginkan untuk bisa melepas investasi di proyek kereta cepat tersebut agar kerugian tiap tahunnya bisa berkurang.

Namun, Agung mengakui proses tersebut tidaklah mudah. Sebab, keterlibatan WIKA dalam proyek ini tercantum dalam Peraturan Presiden.

“Sehingga yang bisa kita lakukan, ya kita minta pemerintah ataupun Danantara sebisa mungkin WIKA yang memang kondisinya sebenarnya kontraktor untuk tidak masuk ke situ, ya. Tetapi ini tentu menjadi apa namanya domain-nya daripada government atau Danantara,” ujar Agung.

Lantas soal klaim pembengkakan biaya (cost overrun) proyek Whoosh senilai Rp 5,02 triliun, pihaknya tengah menanti proses mediasi yang ditarget rampung tahun ini.

Agung menjelaskan, proses klaim sudah sampai ke Pusat Arbitrase Internasional Singapura alias Singapore International Arbitration Centre (SIAC).

Namun karena adanya kesepakatan antara KCIC dan WIKA proses tersebut akhirnya tidak jadi dibawa ke sana.

“kita sedang di mediasi. Sehingga sementara untuk yang arbitrase ditunda dulu, sebisa mungkin pihak antara WIKA dan KCIC ini melalui mediasi yang ada di WIKA. Target penyelesaian sih tahun ini bisa selesai,” katanya.

WIKA sendiri merupakan pemegang saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), di konsorsium proyek KCIC.

Komposisi pemegang saham PSBI yaitu PT Kereta Api Indonesia (Persero) 58,53%, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 33,36%, PT Perkebunan Nusantara I 1,03%, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk 7,08%.

Jika pemegang saham mayoritas kedua saja mengaku rugi, lantas bagaimana dengan anggota konsorsium lain, PT KAI misalnya?!

Baca:Kisah Lobi PM Malaysia Lolosin Kapalnya Di Selat Hormuz, Dipanggil Brother Anwar

Share Here: