
Kapal Induk AS Kebakaran di Tengah Konflik Iran, 200 Awak Jadi Korban

Kapal induk terbesar milik Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford, dilaporkan akan berlayar menuju Kreta untuk menjalani perbaikan setelah mengalami sejumlah masalah serius selama penugasan panjangnya di Timur Tengah.
Insiden terbaru berupa kebakaran di dalam kapal menyebabkan puluhan pelaut mengalami cedera akibat asap, serta menghancurkan sekitar 100 tempat tidur awak. Kebakaran terjadi di area laundry utama dan membutuhkan waktu berjam-jam untuk dipadamkan.
Menurut pejabat yang dikutip Reuters, hampir 200 awak mendapatkan perawatan akibat paparan asap, sementara satu orang harus dievakuasi dari kapal karena luka yang dideritanya. Meski begitu, pihak militer sebelumnya menyatakan bahwa sistem utama kapal, termasuk propulsi, tidak mengalami kerusakan dan kapal tetap dapat beroperasi.
Kapal induk ini telah berada di laut selama hampir sembilan bulan dan saat ini ditempatkan di Laut Merah untuk mendukung operasi militer AS dalam konflik dengan Iran. Lamanya masa penugasan ini memicu kekhawatiran terkait kondisi mental dan moral para awak kapal.
Selain kebakaran, kapal juga dilaporkan mengalami masalah berulang pada sistem toilet. Sejumlah laporan media AS menyebutkan adanya saluran yang sering tersumbat, menyebabkan antrean panjang bagi awak kapal.
Masalah ini sebenarnya sudah teridentifikasi sejak 2020, di mana sistem toilet kapal membutuhkan pembersihan menggunakan asam secara berkala dengan biaya mencapai 400.000 dolar AS setiap kali perawatan. Meski Angkatan Laut AS mengklaim gangguan tersebut dapat ditangani dengan cepat oleh tim teknis, kondisi ini tetap menjadi sorotan, terutama di tengah tekanan operasional yang tinggi.
Kritik juga datang dari politisi AS, termasuk Mark Warner, yang menilai bahwa awak kapal telah didorong hingga batas kemampuan akibat keputusan militer yang dinilai berisiko.
Penarikan USS Gerald R. Ford untuk perbaikan diperkirakan akan meninggalkan celah dalam kekuatan militer AS di kawasan. Namun, kapal induk lain, USS George H.W. Bush, disebut-sebut tengah dipersiapkan untuk menggantikan posisinya di Timur Tengah.
Sejak operasi militer dimulai pada akhir Februari, Amerika Serikat dilaporkan telah melancarkan serangan ke lebih dari 7.000 target di wilayah konflik. USS Gerald R. Ford sendiri membawa lebih dari 75 pesawat tempur, termasuk F/A-18 Super Hornet, serta dilengkapi sistem radar canggih untuk mendukung operasi udara.

