
Iran Tolak Negosiasi AS, Serangan Israel-Iran Kian Memanas

Konflik antara Iran dan Israel kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan udara pada Rabu (25/3/2026). Di tengah eskalasi perang yang telah berlangsung selama empat pekan, Iran menolak klaim Presiden Amerika Serikat bahwa Washington tengah melakukan negosiasi dengan Teheran untuk mengakhiri konflik.
Pemerintah Iran menegaskan tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat terkait upaya mengakhiri perang di Timur Tengah. Pernyataan itu sekaligus membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut Washington sedang berunding dengan pihak yang tepat di Iran.
Juru bicara Komando Terpadu Angkatan Bersenjata Iran, Ebrahim Zolfaghari, bahkan menyindir pernyataan Trump tersebut dalam siaran televisi pemerintah Iran.
“Apakah konflik batin Anda sudah sampai pada tahap Anda bernegosiasi dengan diri sendiri?” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat, baik sekarang maupun di masa mendatang. Menurutnya, Iran tidak bisa bernegosiasi dengan Washington karena negara itu telah dua kali menyerang Iran saat proses perundingan tingkat tinggi berlangsung dalam dua tahun terakhir.
Sementara itu, serangan udara antara Israel dan Iran terus berlangsung. Militer Israel menyatakan telah meluncurkan gelombang serangan yang menargetkan berbagai infrastruktur di Tehran.
Media Iran melaporkan bahwa serangan tersebut menghantam kawasan permukiman warga dan tim penyelamat masih melakukan pencarian korban di bawah reruntuhan bangunan.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengklaim telah meluncurkan serangan baru ke sejumlah lokasi di Israel, termasuk Tel Aviv dan Kiryat Shmona. Serangan juga disebut menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, Jordan, dan Bahrain.
Kuwait dan Saudi Arabia juga melaporkan berhasil menangkis serangan drone terbaru. Sebuah drone bahkan menargetkan tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait hingga memicu kebakaran, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Konflik yang telah menewaskan ribuan orang ini juga mengguncang pasar energi global. Penutupan efektif Strait of Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, memicu krisis pasokan energi terbesar dalam sejarah serta mendorong lonjakan harga bahan bakar dan kekhawatiran inflasi global.
Di tengah situasi tersebut, laporan media Amerika menyebut Washington telah mengirimkan proposal rencana perdamaian berisi 15 poin kepada Iran.
Menurut laporan The New York Times, rencana tersebut mencakup penghentian program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hezbollah, serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Amerika Serikat dan Israel sebelumnya melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari setelah negosiasi terkait program nuklir Teheran dinilai tidak menunjukkan kemajuan yang cukup. Serangan terhadap fasilitas nuklir Iran juga dilakukan AS pada Juni 2025.
Sejak dimulainya operasi militer Amerika Serikat bertajuk Operation Epic Fury pada Februari lalu, Iran juga menyerang sejumlah negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS serta menargetkan infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Sementara itu, Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan perang.
Namun di tengah laporan mengenai kemungkinan negosiasi tersebut, Pentagon disebut sedang bersiap mengirim ribuan pasukan tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS ke Timur Tengah. Pasukan ini akan bergabung dengan sekitar 50.000 tentara Amerika Serikat yang sudah berada di kawasan tersebut.
Langkah itu memicu kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi berlangsung lebih lama.
Baca:Kim Jong Un Terpilih Kembali Presiden Korea Utara, Ini Kata Kritikus

