Iran Tolak Mentah-mentah Tawaran Gencatan Senjata AS

Iran Tolak Mentah-mentah Tawaran Gencatan Senjata AS

Teheran – Pemerintah Iran secara tegas menolak proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat (AS) yang berisi 15 poin persyaratan. Penolakan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang menegaskan bahwa Teheran tidak akan tunduk pada skema damai versi Washington.

Proposal 15 poin yang diajukan pemerintahan Presiden AS Donald Trump itu disampaikan melalui Pakistan sebagai mediator. Meski rincian lengkapnya tidak dipublikasikan secara terbuka, sejumlah poin utama disebut mencakup pembongkaran program nuklir Iran, pembatasan pengembangan rudal, penghentian dukungan terhadap kelompok sekutu di kawasan, serta pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, Iran menilai tawaran tersebut tidak adil dan tidak mencerminkan kondisi di lapangan. Teheran bahkan menyebut proposal itu sebagai upaya sepihak yang lebih menguntungkan AS dan sekutunya.

Sebagai respons, Iran justru mengajukan lima syarat utama untuk mencapai gencatan senjata. Pertama, penghentian total agresi militer dan serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel. Kedua, adanya jaminan konkret bahwa serangan tidak akan kembali terjadi di masa depan.

Ketiga, Iran menuntut kompensasi atau reparasi atas seluruh kerusakan yang ditimbulkan akibat perang. Keempat, pengakuan resmi atas hak Iran untuk mengontrol aktivitas maritim di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Kelima, Iran meminta agar kelompok sekutunya di kawasan juga dilibatkan dalam kesepakatan damai, termasuk penghentian konflik yang melibatkan kelompok tersebut, seperti di Lebanon.

Araghchi menegaskan bahwa keputusan untuk mengakhiri perang sepenuhnya berada di tangan Iran, bukan pihak lain. Ia juga menyindir AS yang dinilai tidak konsisten, mengingat sebelumnya tetap melakukan serangan di tengah proses negosiasi.

Hingga kini, upaya mediasi masih terus dilakukan oleh sejumlah negara seperti Turki, Pakistan, dan Mesir. Meski demikian, situasi di lapangan menunjukkan konflik masih terus berlangsung dengan intensitas tinggi.

Penolakan Iran ini menandai kebuntuan baru dalam upaya diplomatik menghentikan perang, sekaligus memperlihatkan bahwa kedua pihak masih jauh dari titik temu menuju perdamaian. Sejauh ini perang Amerika-Israel Vs Iran telah menimbulkan dampak negatif ke negara lain. Beberap negara sudah melakukan gerakan penghematan BBM, Filipinda menjadi negara pertama yang mendeklarasikan penghematan BBM dan mengakui krisis energi. Sementara Indonesia sedang menyiapkan skema penghematan BBM.

Share Here: