Iran Gunakan Rudal Sejjil untuk Pertama Kalinya dalam Perang Melawan AS dan Israel

Iran Gunakan Rudal Sejjil untuk Pertama Kalinya dalam Perang Melawan AS dan Israel

Iran dilaporkan meluncurkan salah satu senjata paling canggihnya, rudal balistik Sejjil.

Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel semakin memanas. Pada Minggu (15/3/2026), Iran dilaporkan meluncurkan salah satu senjata paling canggihnya, rudal balistik Sejjil, untuk pertama kalinya sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Rudal Sejjil-2 dikenal sebagai salah satu rudal balistik jarak menengah paling kuat milik Iran. Senjata ini mampu menjangkau target dalam hitungan menit dan menjadi salah satu sistem persenjataan paling strategis yang dimiliki Teheran.

Berikut lima fakta penting mengenai rudal Sejjil yang digunakan Iran dalam konflik tersebut:

1. Rudal balistik dua tahap
Sejjil-2 merupakan rudal balistik jarak menengah dengan dua tahap dan menggunakan bahan bakar padat. Rudal ini diperkirakan memiliki jangkauan hingga sekitar 2.000 kilometer dengan kapasitas muatan sekitar 700 kilogram.

2. Ukuran dan bobot sangat besar
Menurut lembaga riset keamanan internasional Center for Strategic and International Studies (CSIS), rudal ini memiliki panjang sekitar 18 meter, diameter 1,25 meter, dan bobot sekitar 23.600 kilogram.

3. Persiapan peluncuran lebih cepat
Salah satu keunggulan Sejjil-2 adalah penggunaan bahan bakar padat, yang membuat proses persiapan dan peluncuran jauh lebih cepat dibanding rudal lama Iran yang menggunakan bahan bakar cair seperti seri Shahab.

4. Pertama kali diuji pada 2008
Uji coba pertama rudal Sejjil dilakukan pada 2008, dengan jarak tempuh sekitar 800 kilometer. Uji coba kedua berlangsung pada Mei 2009 untuk menyempurnakan sistem navigasi dan panduannya.

5. Pernah diuji hingga hampir 2.000 kilometer
Secara keseluruhan, rudal ini telah menjalani beberapa kali uji coba. Dalam salah satu tes, Sejjil dilaporkan mampu terbang hingga sekitar 1.900 kilometer sebelum jatuh di wilayah Samudra Hindia.

Perang di kawasan Timur Tengah kini telah memasuki hari ke-17. Konflik dimulai setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Situasi semakin memanas setelah pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas.
Sejak saat itu, Iran meningkatkan serangan balasan dengan menargetkan wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Di tengah konflik, sempat beredar rumor bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tewas akibat serangan Iran. Namun kabar tersebut dibantah langsung oleh Netanyahu melalui video yang ia unggah di media sosial.

Sejauh ini, konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan turut mengguncang ekonomi global. Ketegangan meningkat setelah Iran menghentikan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, yang memaksa sejumlah negara mencari jalur pasokan energi alternatif.

Baca:Soal Haji Di Konflik Timur Tengah, Dubes Arab Saudi Minta Masyarakat Indonesia Tidak Khawatir

Share Here: