
IAEA: Tak Ada Peningkatan Radiasi Usai AS Hajar Situs Nuklir Iran
Wina – International Atomic Energy Agency (IAEA) mengatakan bahwa tak ada peningkatan level radiasi usai Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir Iran termasuk di Fordo. Padahal Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa serangan itu untuk menghancurkan total fasilitas nuklir utama Iran.
Dalam keterangan resmi mereka, IAEA menjelaskan bahwa situs nuklir Isfahan telah jadi target serangan sebanyak dua kali dalam sembilan hari terakhir. Pada serangan pertama 13 Juni ada empat bangunan yang rusak, kemudian pada serangan terbaru dari AS enam bangunan lainnya kena serangan.
Kompleks nuklir di Isfahan salah satu lokasi utama program nuklir Iran, telah berulang kali diserang dan mengalami kerusakan parah.
Menurut IAEA, fasilitas nuklir yang menjadi sasaran Amerika Serikat tidak mengandung bahan nuklir atau uranium dalam jumlah kecil. Bila ada kontaminasi radioaktif akan terbatas pada bangunan yang hancur.
“Berdasarkan analisis kami terhadap material nuklir yang ada, kami tak ada peningkatan risiko kontaminasi di luar lokasi. Meskipun demikian, seperti yang telah saya nyatakan berulang kali, fasilitas nuklir tidak boleh diserang,” kata Director General Rafael Mariano Grossi of the International Atomic Energy Agency dari Wina, Minggu (22/6/2025).
Dengan serangan itu, Amerika Serikat kini bergabung dengan Israel yang sudah menyerang Iran. Saat berbicara di saluran TV nasional, Trump mengatakan bakal menyerang Iran lagi jika negara di Timur Tengah ini tak mau damai secara cepat.
“Malam ini, saya dapat melaporkan kepada dunia bahwa serangan itu merupakan keberhasilan militer yang spektakuler,” kata Trump dengan pongahnya dalam konferensi pers itu.
Trump juga mengklaim telah meluluh-lantakkan fasilitas-fasilitas nuklir Iran di tiga lokasi, masing masing di Fordo, Natanz, dan Isfahan.
“Fasilitas pengayaan nuklir utama Iran telah sepenuhnya dan sepenuhnya dihancurkan. Iran, si pengganggu di Timur Tengah, sekarang harus berdamai,” ujar dia lagi.
Menurut lembar fakta Angkatan Udara Amerika Serikat, pesawat pengebom B-2 milik mereka telah menjatuhkan bom ‘bunker buster’ GBU-571/B Massive Ordance Penetrator (MOP) ke situs nuklir Fordo. Bom seberat 13,6 ton itu memilik kandungan 2,7 ton bahan peledak. Bom ini didesain untuk menembus lapisan tanah dan beton bunker tebal sebelum meledak.
Selain menerbangkan pesawat B-2, Amerika Serikat juga memerintahkan kapal selam meluncurkan 30 rudal jelajah TLAM ke situs nuklir Natanz dan Isfahan. Kemudian bunker buster juga dijatuhjan di Natanz menggunakan B-2.



