
Film Terbaru Joko Anwar ‘Ghost in the Cell’, Jadikan Penjara Sebagai Cermin Kehidupan

Jakarta – Sutradara Joko Anwar kembali menghadirkan karya dengan makna sosial yang kuat lewat film terbarunya, Ghost in the Cell. Mengambil latar sebuah penjara, film ini memotret dinamika kekuasaan yang mencerminkan realitas sosial dan politik masyarakat.
“Penjara adalah cerminan hidup secara sosial dan politik. Ada pejabat lapas sebagai pemerintah, dan ada napi sebagai rakyat. Ada dinamika kuasa, dan dinamika antar napi yang mencerminkan masyarakat kita,” ujar Joko Anwar saat peluncuran official trailer Ghost in the Cell di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Senin (23/2/2026).
Ghost in the Cell menjadi film panjang ke-12 Joko Anwar dan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026. Film ini diproduksi oleh Come and See Pictures dan telah menjalani world premiere di Berlin International Film Festival 2026, dengan respons positif dari penonton internasional.
Mengusung genre horor supranatural yang dipadukan dengan komedi satir, Ghost in the Cell tidak hanya menawarkan teror, tetapi juga kritik sosial yang relevan. Film ini dibintangi deretan aktor papan atas seperti Abimana Aryasatya, Aming, Morgan Oey, Tora Sudiro, Bront Palarae, hingga Endy Arfian.
Latar penjara yang sarat kekerasan dan ketidakadilan menjadi ruang bagi cerita berkembang. Alih-alih sekadar menakut-nakuti, film ini mengajak penonton menertawakan realitas yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam Ghost in the Cell, penjara tidak diposisikan hanya sebagai lokasi cerita, melainkan metafora. Horor berfungsi sebagai hiburan, sementara satir menjadi alat refleksi sosial. Ketegangan lahir dari konflik antar napi, relasi kuasa, serta elemen supranatural yang menghantui para penghuni sel.
Kehadiran ansambel pemain dengan karakter kuat disebut Joko Anwar sebagai bagian penting dari konsep film, yang dirancang menyerupai miniatur kehidupan masyarakat dengan berbagai lapisan dan kepentingan.
Dari sisi teknis, film ini digarap dengan pendekatan berbeda. Produser Tia Hasibuan mengungkapkan, proses produksi berlangsung selama 22 hari dengan sistem pengambilan gambar setengah hari.
Film ini hanya terdiri dari 43 adegan, jauh lebih sedikit dibanding film pada umumnya. Hampir seluruh adegan direkam menggunakan pendekatan one shot take, membuat Ghost in the Cell terasa menyerupai pertunjukan teater dan menuntut konsistensi akting tinggi dari para pemain.
Setelah menjalani world premiere di Berlin, Ghost in the Cell melangkah lebih jauh sebagai proyek yang sejak awal diarahkan ke pasar internasional. Selain tayang di bioskop Indonesia, film ini dijadwalkan tayang juga di negara lain seperti Amerika Serikat.
Joko Anwar menegaskan, perpaduan horor dan satir sosial membuat cerita Ghost in the Cell relevan secara global karena berbicara tentang relasi kuasa dan kekacauan sistem yang dialami banyak negara.
Didukung kerja sama produksi dengan Rapi Films dan Legacy Pictures, serta penjualan internasional, Ghost in the Cell diposisikan bukan hanya sebagai film nasional, tetapi sebagai kritik sosial Indonesia yang ditawarkan ke panggung global.
Baca:Min Hee-jin Tawarkan Rp300 Miliar Demi Bebaskan NewJeans dari Gugatan HYBE



