Dampak Tarif Resiprokal 32 Persen Buat Indonesia, Begini Hitungan Versi INDEF

Dampak Tarif Resiprokal 32 Persen Buat Indonesia, Begini Hitungan Versi INDEF

Jakarta – Meski baru saja diumumkan ditangguhkan selama 90 hari, pemerintah Indonesia wajib berhitung jika skema tarif resiprokal 32 persen oleh Amerika Serikat (AS) ini benar-benar terealisasi. Lantas sektor apa saja dan seberapa besar dampak ekonomis penerapan tarif resiprokal bagi produk milik Indonesia.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menerapkan tarif resiprokal atau skema timbal balik terhadap produk ekspor impor ke negara AS. Tidak terkecuali Indonesia yang kena tarif sebesar 32 persen.

Mengutip dari hasil simulasi yang dilakukan lembaga INDEF, penerapan tarif resiprokal berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di berbagai negara mitra dagang, dengan tingkat penurunan yang berbeda-beda.

Vietnam mengalami penurunan terbesar sebesar -0.84%, disusul China -0.61%, dan Thailand -0.35%. Negara-negara ini sangat bergantung pada ekspor, terutama ke Amerika Serikat, sehingga terkena dampak paling besar.

Malaysia (-0.11%) dan India (-0.06%) juga mengalami penurunan, meskipun lebih ringan dibandingkan Vietnam dan China. Sementara itu, Amerika Serikat sendiri mencatat penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar -0.09%. Ini menunjukkan bahwa kebijakan tarif yang mereka terapkan justru meningkatkan biaya impor dan mengganggu rantai pasok domestik, sehingga memberi tekanan balik pada ekonominya sendiri.

Bagaimana dengan Indonesia? Untuk Indonesia, dampaknya relatif lebih kecil, sebesar -0.05%. Ini mencerminkan bahwa struktur ekspor Indonesia tidak terlalu bergantung pada negara-negara yang terdampak langsung oleh kebijakan tarif, sehingga tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi tetap ada namun lebih terbatas.

Data menunjukkan pukulan paling berat dari tarif resiprokal dialami sektor manufaktur dengan kontraksi tajam di manufaktur lainnya3 sebesar -22,11%, diikuti peralatan listrik -10,14%, serta tekstil dan pakaian -7,34%. Sektor-sektor ini selama ini menjadi tulang punggung ekspor Indonesia ke AS, sehingga dampak tarif langsung menggerus output industri utama.

Besarnya penurunan ini menandakan lemahnya ketahanan struktur ekspor Indonesia, yang terlalu bertumpu pada produk bernilai tambah rendah dan sensitif terhadap biaya. Sementara beberapa sektor seperti peralatan transportasi dan pertambangan justru mencatat pertumbuhan positif, ini menunjukkan hanya sebagian kecil industri yang mampu bertahan atau bahkan diuntungkan dalam situasi tarif tinggi. Ketimpangan ini memperjelas risiko jangka menengah, di mana tekanan tarif memukul tidak merata, tapi sangat dalam di sektor yang paling menggantungkan diri pada pasar ekspor AS.

Indonesia yang terkena dampak terutama di sektor manufaktur, harus menanggung beban tarif tanpa keunggulan posisi tawar yang memadai. Pengenaan tarif resiprokal memberikan pukulan paling dalam pada sektor manufaktur lainnya dengan penurunan output ekspor mencapai -36,97%, diikuti peralatan listrik (-13,99%), dan produk mineral non-logam (-10,13%). Tekstil dan produk pakaian juga tertekan signifikan (9,16%), mencerminkan kerentanan tinggi pada sektor padat karya yang selama ini menjadi andalan ekspor.

Sebaliknya, sektor peralatan transportasi lainnya justru tumbuh 12,15%, diikuti utilitas dan konstruksi (5,69%), mencerminkan ruang bagi beberapa sektor tertentu untuk bertahan atau bahkan diuntungkan di tengah tekanan tarif.

Impor Indonesia diperkirakan turun -2,22% akibat penerapan tarif resiprokal, berada di tengah-tengah dibanding negara lain, jauh di bawah China yang penurunannya paling dalam (-14,53%) namun sejalan dengan Korea Selatan (-2,24%) dan Jepang (-3,2%).

Penurunan ini mencerminkan dampak yang moderat namun tetap signifikan, mengingat Indonesia banyak mengimpor bahan baku dan barang modal yang menjadi penopang industri manufaktur ekspor. Negara-negara seperti China, Vietnam, dan Thailand yang lebih dalam penurunannya adalah negara dengan keterlibatan tinggi dalam rantai pasok global, sedangkan Indonesia yang lebih bergantung pada impor untuk produksi domestik tetap harus menanggung dampak dari naiknya biaya input.

Baca dong:Trump Tunda Tarif Resiprokal 90 Hari

Prabowo Akan Bicara Ekonomi Global Dan Dampak Tarif Trump

Share Here: