
Ayatollah Sistani Serukan Persatuan Iran Usai Kematian Ali Khamenei

Baghdad – Ulama Syiah terkemuka Irak, Ayatollah Ali al Sistani, menyerukan persatuan nasional kepada rakyat Iran setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataan resminya pada Minggu (1/3/2026), Sistani menyampaikan duka mendalam kepada rakyat Iran dan umat Muslim dunia. Ia menyebut Khamenei sebagai sosok yang memiliki peran penting dalam memimpin Republik Islam Iran selama puluhan tahun.
“Melalui kesyahidan beliau dan serangan militer berskala besar terhadap Iran, musuh berupaya menimbulkan kerusakan besar pada negara yang dicintai ini,” ujar Sistani.
“Rakyat Iran diharapkan tetap bersatu, teguh, dan mampu menggagalkan tujuan jahat para agresor,” lanjutnya.
Pemerintah Irak menetapkan tiga hari masa berkabung nasional atas wafatnya Khamenei, yang menjabat sebagai pemimpin spiritual dan otoritas politik tertinggi Iran sejak 1989. Kematian Khamenei juga memicu kemarahan di Baghdad, di mana ratusan demonstran mencoba menerobos Zona Hijau, kawasan yang menampung Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Iran diketahui memiliki pengaruh besar dalam politik Irak serta mendukung sejumlah kelompok bersenjata yang kekuatannya terus meningkat, baik secara politik maupun finansial. Selama bertahun-tahun, Irak kerap menjadi arena konflik proksi antara Amerika Serikat dan Iran.
Juru bicara pemerintah Irak, Bassem al-Awadi, menyebut kematian Khamenei sebagai “tindakan agresi terang-terangan” dan menyerukan penghentian segera operasi militer yang dinilai mendorong kawasan menuju tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Koalisi politik Syiah berkuasa di Irak, Coordination Framework, juga menyampaikan belasungkawa dan menyebut Khamenei sebagai “pemimpin yang gugur sebagai martir”, seraya menegaskan bahwa perjuangannya akan terus dikenang lintas generasi.
Sementara itu, ulama berpengaruh Irak Muqtada al-Sadr, yang selama ini dikenal memiliki hubungan naik-turun dengan Iran, turut menyampaikan belasungkawa kepada dunia Islam dan menetapkan tiga hari masa berkabung.
Ketegangan regional terus meningkat menyusul kematian Khamenei, dengan kekhawatiran meluasnya konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Baca:Iran Tunjuk Ayatollah Alireza Arafi Masuk Dewan Kepemimpinan Sementara Usai Kematian Khamenei



